Untuk kamu yang ingin melanjutkan
kuliah atau masih menempuh semester awal di kampusmu. Ada yang ingin saya bagi
denganmu. Ini semacam pakem tidak resmi yang sudah menjadi kelaziman bahwa saat menjadi mahasiswa, kamu mungkin akan memiliki banyak teman, tapi
di akhir semester kamu justru harus berjuang sendirian. Kamu harus menyadari
bahwa jenjang perkuliahan harus diakhiri. Cepat atau lambatnya kamu lulus,
semua ada di tanganmu. Temanmu tadi bisa saja ada yang wisuda lebih dulu,
mendahuluimu. Tapi jangan salahkan mereka, salahkan saja kamu yang terlalu
pemalas mengejar mereka. kamu harus sadar, kamulah yang menentukan nasibmu
sendiri di masa depan, dan Tuhan akan mengamini setiap langkahmu.
Yang gawat adalah apabila ada
mahasiswa pemalas yang menjadikan mahasiswa pemalas lain sebagai percontohan,
seolah apa yang ia lakukan itu benar. Mungkin tindakan itu terpaksa ia ambil
sebagai pembenaran karena ia terlanjur berada di titik nyaman. Yah, nyaman
tidak menjadi apa-apa, nyaman tidak menghasilkan apa-apa. Tapi pahamilah ada
banyak alasan yang melatarbelakangi tindakan seseorang. Benar memang kalian
sama-sama enggan menyelesaikan (misalnya) skripsi, tapi lingkungan kalian
berbeda, latar belakang pendidikan dan penghasilan orangtua kalian pun berbeda.
Pernah ada seorang sahabat yang saya tegur lantaran ia terlalu malas menggarap skripsinya.
Ia lantas menyebut nama seorang sahabat yang lain (sebutlah si B), dan
mengatakan bahwa yang malas bukan cuma dia, yang kuliahnya nyantai juga bukan cuma dia, yang nyaman selalu berada di jajaran mahasiswa ber-IP rendah bukan cuma dia, yang seolah pasrah diterkam masa depan yang masih antah berantah
juga bukan cuma dia, tapi juga si B.
Saya katakan padanya, kamu dan si
B itu berbeda. Kamu dan si B mungkin sama-sama pemalas tapi lihatlah, si B anak
orang kaya, orangtuanya pejabat. Mau hancur ataupun tidak kuliahnya, mau jelek
ataupun bagus nilainya, ia pasti mendapat pekerjaan. Lah kamu, kamu bukan anak
orang kaya, kamu cuma anak kampung, calon insinyur pertanian pertama di desamu.
kalau kamu gagal siapa yang kecewa? Yah,
orangtuamu pasti ada di barisan pertama. Cobalah berkaca pada keadaan, tidakkah kau
ingin memperbaikinya?
Kita terkadang salah menjadikan
seseorang panutan, hanya karena kita sejalan dengannya. Padahal jalan tersebut
tidak membawa kebaikan untuk kita.
Mulai sekarang, bergaulah dengan orang-orang
hebat, dekatilah orang-orang yang mampu merangsangmu untuk terus berkembang ke
arah yang lebih baik. Tentukan tujuanmu, apa yang ingin kamu capai di masa
depan. Susunlah rencanamu lalu jalankan dengan strategi yang terbaik. Jangan
sampai rencanamu hanya ibarat terbangun dari mimpi. Pagi ini ingat, besok sudah
terlupakan.
Bergeraklah, semoga kebahagiaan ada dalam genggamanmu.
-Rendra Pirani, 03 Oktober 2016-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar