Minggu, 02 Oktober 2016

Nasihat untuk Pejuang Masa Depan

Untuk kamu yang ingin melanjutkan kuliah atau masih menempuh semester awal di kampusmu. Ada yang ingin saya bagi denganmu. Ini semacam pakem tidak resmi yang sudah menjadi kelaziman bahwa saat menjadi mahasiswa, kamu mungkin akan memiliki banyak teman, tapi di akhir semester kamu justru harus berjuang sendirian. Kamu harus menyadari bahwa jenjang perkuliahan harus diakhiri. Cepat atau lambatnya kamu lulus, semua ada di tanganmu. Temanmu tadi bisa saja ada yang wisuda lebih dulu, mendahuluimu. Tapi jangan salahkan mereka, salahkan saja kamu yang terlalu pemalas mengejar mereka. kamu harus sadar, kamulah yang menentukan nasibmu sendiri di masa depan, dan Tuhan akan mengamini setiap langkahmu.

Yang gawat adalah apabila ada mahasiswa pemalas yang menjadikan mahasiswa pemalas lain sebagai percontohan, seolah apa yang ia lakukan itu benar. Mungkin tindakan itu terpaksa ia ambil sebagai pembenaran karena ia terlanjur berada di titik nyaman. Yah, nyaman tidak menjadi apa-apa, nyaman tidak menghasilkan apa-apa. Tapi pahamilah ada banyak alasan yang melatarbelakangi tindakan seseorang. Benar memang kalian sama-sama enggan menyelesaikan (misalnya) skripsi, tapi lingkungan kalian berbeda, latar belakang pendidikan dan penghasilan orangtua kalian pun berbeda.

Pernah ada seorang sahabat yang saya tegur lantaran ia terlalu malas menggarap skripsinya. Ia lantas menyebut nama seorang sahabat yang lain (sebutlah si B), dan mengatakan bahwa yang malas bukan cuma dia, yang kuliahnya nyantai juga bukan cuma dia, yang nyaman selalu berada di jajaran mahasiswa ber-IP rendah bukan cuma dia, yang seolah pasrah diterkam masa depan yang masih antah berantah juga bukan cuma dia, tapi juga si B.

Saya katakan padanya, kamu dan si B itu berbeda. Kamu dan si B mungkin sama-sama pemalas tapi lihatlah, si B anak orang kaya, orangtuanya pejabat. Mau hancur ataupun tidak kuliahnya, mau jelek ataupun bagus nilainya, ia pasti mendapat pekerjaan. Lah kamu, kamu bukan anak orang kaya, kamu cuma anak kampung, calon insinyur pertanian pertama di desamu. kalau kamu gagal siapa yang kecewa?  Yah, orangtuamu pasti ada di barisan pertama. Cobalah berkaca pada keadaan, tidakkah kau ingin memperbaikinya?
Kita terkadang salah menjadikan seseorang panutan, hanya karena kita sejalan dengannya. Padahal jalan tersebut tidak membawa kebaikan untuk kita. 

Mulai sekarang, bergaulah dengan orang-orang hebat, dekatilah orang-orang yang mampu merangsangmu untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Tentukan tujuanmu, apa yang ingin kamu capai di masa depan. Susunlah rencanamu lalu jalankan dengan strategi yang terbaik. Jangan sampai rencanamu hanya ibarat terbangun dari mimpi. Pagi ini ingat, besok sudah terlupakan.
Bergeraklah, semoga kebahagiaan ada dalam genggamanmu.
-Rendra Pirani, 03 Oktober 2016-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar