Minggu, 02 Oktober 2016

Mendung di Wajah Aisyah




Mendung di Wajah Aisyah
Rendra Pirani

            Praaak!
Suara pecahan kaca menggema memenuhi penjuru rumah. Aisyah berlari secepatnya menuju kamar mandi. Ia mengkhawatirkan ibunya.
 “Umiii!”
Tampak di depan matanya, seorang wanita paruh baya tengah menggenggam pecahan gelas. Darah segar mengucur dari telapak tangannya, menyatu bersama aliran air keran yang masih memancar. Membuat lantai berkeramik putih itu kini memerah. Aisyah tak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah. Ia segera memeluk ibunya. Mereka terisak bersama.
“Umi sudah nggak kuat, Neng,” Tangis Ibunda Aisyah kembali pecah. “Abimu, ia pergi dengan pelacur itu!”
“Istighfar, Umi. Kita masih punya Allah. Umi juga masih punya aku, yang akan selalu menjaga dan merawat Umi.”
Tangis Ibunda Aisyah perlahan mereda. Aisyah mendekap ibunya semakin erat. Ia sungguh menyayangi wanita ini melebihi apapun juga. Ia tidak rela andaikan ada seorangpun yang menyakitinya, termasuk ayahnya.
“Aku mendukung Umi, kalau memang Umi mau berpisah dengan Abi.”
“Lalu kamu?”
“Aku akan baik-baik saja, Mi. Aku janji.”
“Aisyah!”
Teriakan Fadlan membuat Aisyah tersentak,“Eh iya, Fadlan?”
Aisyah tersadar dari lamunannya dan mulai berdiri. Entah sudah berapa lama ia bersimpuh di atas tanah. Bayang-bayang masa lalunya akan selalu mengintainya tiap kali ada seorang laki-laki yang mengajaknya membicarakan persoalan yang menyangkut masa depannya, pernikahan. Di kepalanya akan terputar pertanyaan-pertanyaan yang masih menjadi misteri baginya; apakah ia akan bernasib sama dengan ibunya?
Sebenarnya banyak kawan-kawan Aisyah yang juga bernasib sama dengannya. Bahkan mungkin Aisyah lebih baik - kedua orangtuanya berpisah saat Aisyah duduk di bangku SMA - kawan-kawannya justru banyak yang menjadi korban perceraian saat mereka masih senang-senangnya bermain lompat tali, saat rambut mereka masih dikepang dua, belum tertutup kerudung.
Tapi bukankah Fadlan berbeda. Lihatlah senyumannya yang teramat manis. Raut wajahnya yang memancarkan kelembutan dan kedewasaan, matanya yang sendu seolah menguarkan keteduhan di mana saja tatap itu tertuju. Fadlan adalah pria yang istimewa,  berbeda dari kebanyakan laki-laki yang akan memandangnya dengan tidak sopan, memelototi wajahnya yang bulat tanpa berkedip. Seringkali ia jumpai laki-laki seperti itu juga akan menerawangi tiap lekuk tubuh perempuan dari ujung kaki-sampai ujung kepala tanpa sisa. Untunglah ia tidak suka memakai pakaian yang ketat.Celana pun sudah lama tidak ia pakai kecuali sebagai dalaman rok yang ia kenakan.
Fadlan masih setia memajang senyuman. Aisyah menundukkan wajahnya, dipalingkannya ke bawah sana, ke perkampungan tempat ia mengabdi sebagai relawan pendidik selama beberapa bulan. Dari puncak bukit ini, pemandangan kampung ibarat lukisan saja. Rumah-rumah yang berdiri secara acak dengan atapnya yang berupa-rupa (ada yang dari asbes, genting, hingga anyaman daun kelapa), anak-anak yang berkejaran di lapangan, bapak Petani bertopi jerami yang baru pulang dari sawah, penjual aneka kue basah yang berkeliling dengan menjunjung tetampah[1], hingga pengumpul barang bekas yang mengayuh sepeda pun ada.
            “Aisyah, bagaimana keputusanmu?” Fadlan bertanya sekali lagi. Aisyah tetap terdiam. Ia tahu Fadlan adalah laki-laki baik, tapi entah mengapa hatinya masih ragu. Ia takut nasibnya akan seperti ibunya. 

            Hembusan angin memainkan ujung kerudung putih yang menutup kepala Aisyah. Ia membiarkannya. Berharap Yang Maha Kuasa memberinya isyarat lewat bisikan angin yang meniup telinganya. Tapi tampaknya sampai saat ini petunjuk itu belum juga datang.
Aisyah kini memandangi butir-butir kapas yang turun perlahan dari puncak pohon randu yang menaungi mereka. Butir-butir putih nan bersih itu akan menuju perkampungan, tepatnya ke lapangan tempat anak-anak bermain. Setelah cukup dekat, anak-anak itu akan melompat menangkapi kapas-kapas yang berterbangan. Siapa yang bisa menangkap paling banyak, dialah pemenangnya
Butiran kapas itu jugalah yang menyambut kedatangan Aisyah di sekolah dasar Bintang Fajar. Saat itu ia berjalan bersama dengan beberapa relawan melalui lapangan tadi. Puluhan anak-anak berseragam putih merah menyambut mereka dengan berdiri di depan pintu kelas. Saat rombongan itu makin mendekat, anak-anak itu berhamburan menyalami para relawan. Aisyah bahagia sekali saat itu. Ia seperti menemukan oase di tengah gurun yang gersang. Putaran film panjang pertengkaran kedua orangtuanya yang menghantui ingatannya kini mulai berhenti. Di antara kerumunan anak-anak itulah, ia melihat seorang laki-laki bertubuh sedang tengah mengamatinya. Saat tatap Aisyah mendarat di mata laki-laki asing itu, ia menunduk. Wajahnya memerah, mungkin karena terik matahari, pikir Aisyah. Beberapa hari kemudian, Aisyah baru mengetahui nama laki-laki itu. Dialah Fadlan.
***
Aisyah melipat selembar surat yang baru saja ia baca. Dimasukkannya surat itu ke dalam loker meja kerjanya, menyatu bersama dengan surat-surat lain yang ia terima sebelumnya. Surat kesekian, dari laki-laki kesekian, tapi isinya sama; Mengajak Aisyah melangkah ke jenjang pernikahan.
“Surat dari penggemarmu ya?”
Nuke, perempuan berkulit kuning langsat menyapanya. Perawakannya sama seperti perempuan Jakarta kebanyakan, tinggi semampai, bewajah oval, dan berambut hitam lurus tergerai. Ia membawa tumpukan kertas yang dipenuhi gambar siswanya. Diletakkannya tumpukan itu di atas meja kerjanya.
“Nggak juga, surat dari kakak-kakak alumni yang kangen pengen silaturahim.” Aisyah menjawab tanpa beban. Lalu tawa halusnya berderai menggelitik telinga. Ada dekik yang terukir di tengah gumpalan pipinya yang membukit. Manis sekali.
“Kemarin mamamu menelpon, bukan?”
“Oh iyah.” Aisyah tersenyum.
“Ada kabar penting?”
            Senyum Aisyah memudar,”Nggak ada sih. Cuma ada cowok yang datang ke rumah buat melamarku?”
            “Kamu tolak?”
            “Aku belum memikirkan pernikahan, Nuk.”Aisyah tersenyum lagi. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengeluarkan handphone dari dalam tas kecil yang tergeletak di atas meja. sebuah pemberitahuan muncul di layar, EVALUASI KELAS MENULIS BERSAMA FADLAN.
            “Aku pamit dulu ya.” Aisyah bangkit bersiap pergi.
            “Mau ketemu Fadlan?”
            “Kok kamu tahu?”Aisyah menoleh, ia menghentikan langkahnya.
            “Memang cuma Fadlan kan yang belakangan deket sama kamu?”
            “Iyah, tapi kita cuma mau membahas konsep penutupan kelas menulis kok.”
            “Aisyah, Fadlan itu suka sama kamu!”
Aisyah tersentak. Benarkah demikian? Fadlan memang sering mendekatinya, tapi obrolan mereka tidak lebih dari sekadar membahas kelanjutan materi pemberdayaan anak-anak dan pemuda kampung ini. Fadlan pun tidak pernah menyinggung mengenai asmara, hubungan Aisyah dengan laki-laki lain, apalagi soal pernikahan, sesuatu yang tidak ingin dibicarakan Aisyah dengan siapapun entah sampai kapan. Bahkan Aisyah sendiri mengira Fadlan tidak pernah tertarik padanya. Tapi kali ini ia dengar langsung dari Nuke, bahwa Fadlan menyukainya. Mungkinkah?
Nuke kini berdiri di hadapan Aisyah. mereka bersitatap. Ia lalu memegang bahu Aisyah. “Kalau yang melamar kamu adalah Fadlan, apa kamu bakal menerimanya?”
Aisyah tergugu, satu pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan di benaknya. Fadlan memang laki-laki baik dan bertanggung jawab. Apakah pantas laki-laki seperti itu dipatahkan hatinya?
“Ah, ada-ada aja. Nggak mungkin itu. Fadlan cuma menganggap aku sebagai rekan sesama relawan yang punya minat sama sejak di bangku perkuliahan. Sudah ya, Fadlan pasti menunggu daritadi.”Aisyah berbalik, melepaskan genggaman Nuke dan melangkah pergi.
Aisyah, tidak semua laki-laki itu sama.
***
“Kamu bener, Fad. Dari atas sini kita bisa melihat seluruh penjuru kampung. Bagus ya pemandangannya.”
“Iya, Ais. Sebenarnya ada hal lain yang pengen aku bicarakan sama kamu…”
“Itu lapangan sekolah Bintang Fajar! Jadi disana ya kita gelar teatrikal buat penutupan pengabdian kita?!” Aisyah memotong ucapan Fajar. Ia sangat tertarik dengan apa yang kini tersaji di hadapannya.
“Ais, dengarkan aku!”
“Oh iya,”jawab Aisyah, polos. Kini Fadlan tidak lagi tersenyum dan tertawa seperti barusan. Tatapannya tajam tertuju kepada Aisyah.
“Kita sudah lewati berbulan-bulan masa pengabdian di sini. Aku sedikit banyak tahu karakter dan keseharian kamu. Demikian juga sebaliknya. Sejak awal aku melihat kamu, aku sudah tertarik sama kamu. Sampai pada akhirnya aku yakin, kamulah wanita yang cocok untuk mendampingiku. Ais, maukah kamu menikah denganku?”
Raut wajah Aisyah memucat. Ia mematung, hatinya mengering. Padahal baru saja ia bersuka cita menyambut usulan Fadlan, tapi kini kegembiraan itu lenyap tak berbekas. Nuke benar, dibalik kedekatan Fadlan, ada maksud tertentu di sana. Lalu rekaman film panjang masa kecilnya kembali terputar di pikirannya tanpa bisa dicegah. Adegan pertengkaran kedua orangtuanya, pecahan gelas dan piring yang tersebar di lantai, suara tamparan ayahnya, jerit dan isak tangis ibunya, semuanya bergantian menghantui Aisyah. Ia menutup telinganya, berharap jeritan ibunya tidak lagi terdengar. Ia memejamkan matanya, berharap adegan itu tidak lagi membayangi penglihatannya. Tapi semuanya sia-sia, putaran film itu tak jua berhenti. Setiap adegan itu selesai, Aisyah pasti akan menjumpai tubuh ibunya memar bahkan tidak jarang berdarah-darah. Lalu mereka akan menangis bersama melihat laki-laki yang harusnya melindungi mereka kini tiada lagi. Ia justru pergi bersama wanita lain yang masih segar dan menawan.
Aisyah menggelengkan kepalanya berkali-kali, membuat Fadlan panik dan menyesal Karena terlalu cepat mengutarakan isi hatinya.
“Ais, kamu nggak papa?”
Tapi Aisyah tidak mampu mendengar suara Fadlan. Sekelilingnya seolah hening. Hanya suara tangis ibunya yang terdengar. Aisyah merasakan kakinya tak mampu lagi berpijak. Ia terduduk di atas tanah. Kedua tangannya memegangi kepalanya, ia mengerang kesakitan.
 Ya Allah, hentikan semua siksaan ini!
***
 “Aisyah, tampaknya aku sudah tahu apa jawabanmu,” Suara Fadlan terdengar datar, membuat Aisyah merasa bersalah.
“Maafkan aku, Fadlan. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Nggak ada yang bisa kamu harapkan dari wanita yang mematrikan masa depannya pada sebuah peristiwa lampau.”
“Iya, Ais. Aku mengerti.”
Senja itu, tidak ada yang berubah dari Aisyah. Mendung di wajahnya belum juga pergi
***
*Pernah dimuat di majalah “Amore Vimcit Omnia”, Yogyakarta, April 2016. Cerpen ini juga tergabung dalam Antologi Cerpen kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke -22 dengan judul yang sama.


[1] Wadah bulat dan lebar dari anyaman bambu. Biasa dijunjung di atas kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar