Mendung
di Wajah Aisyah
Rendra Pirani
Rendra Pirani
Praaak!
Suara
pecahan kaca menggema memenuhi penjuru rumah. Aisyah berlari secepatnya menuju
kamar mandi. Ia mengkhawatirkan ibunya.
“Umiii!”
Tampak
di depan matanya, seorang wanita paruh baya tengah menggenggam pecahan gelas.
Darah segar mengucur dari telapak tangannya, menyatu bersama aliran air keran
yang masih memancar. Membuat lantai berkeramik putih itu kini memerah. Aisyah
tak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah. Ia segera memeluk ibunya.
Mereka terisak bersama.
“Umi
sudah nggak kuat, Neng,” Tangis Ibunda Aisyah kembali pecah. “Abimu, ia pergi
dengan pelacur itu!”
“Istighfar,
Umi. Kita masih punya Allah. Umi juga masih punya aku, yang akan selalu menjaga
dan merawat Umi.”
Tangis
Ibunda Aisyah perlahan mereda. Aisyah mendekap ibunya semakin erat. Ia sungguh
menyayangi wanita ini melebihi apapun juga. Ia tidak rela andaikan ada
seorangpun yang menyakitinya, termasuk ayahnya.
“Aku
mendukung Umi, kalau memang Umi mau berpisah dengan Abi.”
“Lalu
kamu?”
“Aku
akan baik-baik saja, Mi. Aku janji.”
“Aisyah!”
Teriakan
Fadlan membuat Aisyah tersentak,“Eh iya, Fadlan?”
Aisyah
tersadar dari lamunannya dan mulai berdiri. Entah sudah berapa lama ia
bersimpuh di atas tanah. Bayang-bayang masa lalunya akan selalu mengintainya
tiap kali ada seorang laki-laki yang mengajaknya membicarakan persoalan yang
menyangkut masa depannya, pernikahan. Di kepalanya akan terputar
pertanyaan-pertanyaan yang masih menjadi misteri baginya; apakah ia akan
bernasib sama dengan ibunya?
Sebenarnya
banyak kawan-kawan Aisyah yang juga bernasib sama dengannya. Bahkan mungkin
Aisyah lebih baik - kedua orangtuanya berpisah saat Aisyah duduk di bangku SMA
- kawan-kawannya justru banyak yang menjadi korban perceraian saat mereka masih
senang-senangnya bermain lompat tali, saat rambut mereka masih dikepang dua,
belum tertutup kerudung.
Tapi
bukankah Fadlan berbeda. Lihatlah senyumannya yang teramat manis. Raut wajahnya
yang memancarkan kelembutan dan kedewasaan, matanya yang sendu seolah
menguarkan keteduhan di mana saja tatap itu tertuju. Fadlan adalah pria yang
istimewa, berbeda dari kebanyakan
laki-laki yang akan memandangnya dengan tidak sopan, memelototi wajahnya yang
bulat tanpa berkedip. Seringkali ia jumpai laki-laki seperti itu juga akan
menerawangi tiap lekuk tubuh perempuan dari ujung kaki-sampai ujung kepala
tanpa sisa. Untunglah ia tidak suka memakai pakaian yang ketat.Celana pun sudah
lama tidak ia pakai kecuali sebagai dalaman rok yang ia kenakan.
Fadlan
masih setia memajang senyuman. Aisyah menundukkan wajahnya, dipalingkannya ke
bawah sana, ke perkampungan tempat ia mengabdi sebagai relawan pendidik selama
beberapa bulan. Dari puncak bukit ini, pemandangan kampung ibarat lukisan saja.
Rumah-rumah yang berdiri secara acak dengan atapnya yang berupa-rupa (ada yang
dari asbes, genting, hingga anyaman daun kelapa), anak-anak yang berkejaran di
lapangan, bapak Petani bertopi jerami yang baru pulang dari sawah, penjual
aneka kue basah yang berkeliling dengan menjunjung tetampah[1], hingga
pengumpul barang bekas yang mengayuh sepeda pun ada.
“Aisyah, bagaimana keputusanmu?” Fadlan bertanya sekali
lagi. Aisyah tetap terdiam. Ia tahu Fadlan adalah laki-laki baik, tapi entah
mengapa hatinya masih ragu. Ia takut nasibnya akan seperti ibunya.
Hembusan angin memainkan ujung kerudung putih yang
menutup kepala Aisyah. Ia membiarkannya. Berharap Yang Maha Kuasa memberinya
isyarat lewat bisikan angin yang meniup telinganya. Tapi tampaknya sampai saat
ini petunjuk itu belum juga datang.
Aisyah
kini memandangi butir-butir kapas yang turun perlahan dari puncak pohon randu
yang menaungi mereka. Butir-butir putih nan bersih itu akan menuju
perkampungan, tepatnya ke lapangan tempat anak-anak bermain. Setelah cukup
dekat, anak-anak itu akan melompat menangkapi kapas-kapas yang berterbangan.
Siapa yang bisa menangkap paling banyak, dialah pemenangnya
Butiran
kapas itu jugalah yang menyambut kedatangan Aisyah di sekolah dasar Bintang
Fajar. Saat itu ia berjalan bersama dengan beberapa relawan melalui lapangan
tadi. Puluhan anak-anak berseragam putih merah menyambut mereka dengan berdiri
di depan pintu kelas. Saat rombongan itu makin mendekat, anak-anak itu
berhamburan menyalami para relawan. Aisyah bahagia sekali saat itu. Ia seperti
menemukan oase di tengah gurun yang gersang. Putaran film panjang pertengkaran
kedua orangtuanya yang menghantui ingatannya kini mulai berhenti. Di antara
kerumunan anak-anak itulah, ia melihat seorang laki-laki bertubuh sedang tengah
mengamatinya. Saat tatap Aisyah mendarat di mata laki-laki asing itu, ia
menunduk. Wajahnya memerah, mungkin karena terik matahari, pikir Aisyah.
Beberapa hari kemudian, Aisyah baru mengetahui nama laki-laki itu. Dialah
Fadlan.
***
Aisyah
melipat selembar surat yang baru saja ia baca. Dimasukkannya surat itu ke dalam
loker meja kerjanya, menyatu bersama dengan surat-surat lain yang ia terima
sebelumnya. Surat kesekian, dari laki-laki kesekian, tapi isinya sama; Mengajak
Aisyah melangkah ke jenjang pernikahan.
“Surat
dari penggemarmu ya?”
Nuke,
perempuan berkulit kuning langsat menyapanya. Perawakannya sama seperti
perempuan Jakarta kebanyakan, tinggi semampai, bewajah oval, dan berambut hitam
lurus tergerai. Ia membawa tumpukan kertas yang dipenuhi gambar siswanya.
Diletakkannya tumpukan itu di atas meja kerjanya.
“Nggak
juga, surat dari kakak-kakak alumni yang kangen pengen silaturahim.” Aisyah
menjawab tanpa beban. Lalu tawa halusnya berderai menggelitik telinga. Ada
dekik yang terukir di tengah gumpalan pipinya yang membukit. Manis sekali.
“Kemarin
mamamu menelpon, bukan?”
“Oh
iyah.” Aisyah tersenyum.
“Ada
kabar penting?”
Senyum Aisyah memudar,”Nggak ada sih. Cuma ada cowok yang
datang ke rumah buat melamarku?”
“Kamu tolak?”
“Aku belum memikirkan pernikahan, Nuk.”Aisyah tersenyum
lagi. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengeluarkan handphone dari dalam
tas kecil yang tergeletak di atas meja. sebuah pemberitahuan muncul di layar,
EVALUASI KELAS MENULIS BERSAMA FADLAN.
“Aku pamit dulu ya.” Aisyah bangkit bersiap pergi.
“Mau ketemu Fadlan?”
“Kok kamu tahu?”Aisyah menoleh, ia menghentikan
langkahnya.
“Memang cuma Fadlan kan yang belakangan deket sama kamu?”
“Iyah, tapi kita cuma mau membahas konsep penutupan kelas
menulis kok.”
“Aisyah, Fadlan itu suka sama kamu!”
Aisyah
tersentak. Benarkah demikian? Fadlan memang sering mendekatinya, tapi obrolan
mereka tidak lebih dari sekadar membahas kelanjutan materi pemberdayaan
anak-anak dan pemuda kampung ini. Fadlan pun tidak pernah menyinggung mengenai
asmara, hubungan Aisyah dengan laki-laki lain, apalagi soal pernikahan, sesuatu
yang tidak ingin dibicarakan Aisyah dengan siapapun entah sampai kapan. Bahkan
Aisyah sendiri mengira Fadlan tidak pernah tertarik padanya. Tapi kali ini ia
dengar langsung dari Nuke, bahwa Fadlan menyukainya. Mungkinkah?
Nuke
kini berdiri di hadapan Aisyah. mereka bersitatap. Ia lalu memegang bahu
Aisyah. “Kalau yang melamar kamu adalah Fadlan, apa kamu bakal menerimanya?”
Aisyah
tergugu, satu pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan di benaknya. Fadlan
memang laki-laki baik dan bertanggung jawab. Apakah pantas laki-laki seperti
itu dipatahkan hatinya?
“Ah,
ada-ada aja. Nggak mungkin itu. Fadlan cuma menganggap aku sebagai rekan sesama
relawan yang punya minat sama sejak di bangku perkuliahan. Sudah ya, Fadlan
pasti menunggu daritadi.”Aisyah berbalik, melepaskan genggaman Nuke dan
melangkah pergi.
Aisyah,
tidak semua laki-laki itu sama.
***
“Kamu
bener, Fad. Dari atas sini kita bisa melihat seluruh penjuru kampung. Bagus ya
pemandangannya.”
“Iya,
Ais. Sebenarnya ada hal lain yang pengen aku bicarakan sama kamu…”
“Itu
lapangan sekolah Bintang Fajar! Jadi disana ya kita gelar teatrikal buat
penutupan pengabdian kita?!” Aisyah memotong ucapan Fajar. Ia sangat tertarik
dengan apa yang kini tersaji di hadapannya.
“Ais,
dengarkan aku!”
“Oh
iya,”jawab Aisyah, polos. Kini Fadlan tidak lagi tersenyum dan tertawa seperti
barusan. Tatapannya tajam tertuju kepada Aisyah.
“Kita
sudah lewati berbulan-bulan masa pengabdian di sini. Aku sedikit banyak tahu
karakter dan keseharian kamu. Demikian juga sebaliknya. Sejak awal aku melihat
kamu, aku sudah tertarik sama kamu. Sampai pada akhirnya aku yakin, kamulah
wanita yang cocok untuk mendampingiku. Ais, maukah kamu menikah denganku?”
Raut
wajah Aisyah memucat. Ia mematung, hatinya mengering. Padahal baru saja ia
bersuka cita menyambut usulan Fadlan, tapi kini kegembiraan itu lenyap tak
berbekas. Nuke benar, dibalik kedekatan Fadlan, ada maksud tertentu di sana.
Lalu rekaman film panjang masa kecilnya kembali terputar di pikirannya tanpa
bisa dicegah. Adegan pertengkaran kedua orangtuanya, pecahan gelas dan piring
yang tersebar di lantai, suara tamparan ayahnya, jerit dan isak tangis ibunya,
semuanya bergantian menghantui Aisyah. Ia menutup telinganya, berharap jeritan
ibunya tidak lagi terdengar. Ia memejamkan matanya, berharap adegan itu tidak
lagi membayangi penglihatannya. Tapi semuanya sia-sia, putaran film itu tak jua
berhenti. Setiap adegan itu selesai, Aisyah pasti akan menjumpai tubuh ibunya
memar bahkan tidak jarang berdarah-darah. Lalu mereka akan menangis bersama
melihat laki-laki yang harusnya melindungi mereka kini tiada lagi. Ia justru
pergi bersama wanita lain yang masih segar dan menawan.
Aisyah
menggelengkan kepalanya berkali-kali, membuat Fadlan panik dan menyesal Karena
terlalu cepat mengutarakan isi hatinya.
“Ais,
kamu nggak papa?”
Tapi
Aisyah tidak mampu mendengar suara Fadlan. Sekelilingnya seolah hening. Hanya
suara tangis ibunya yang terdengar. Aisyah merasakan kakinya tak mampu lagi
berpijak. Ia terduduk di atas tanah. Kedua tangannya memegangi kepalanya, ia
mengerang kesakitan.
Ya Allah, hentikan semua siksaan ini!
***
“Aisyah, tampaknya aku sudah tahu apa
jawabanmu,” Suara Fadlan terdengar datar, membuat Aisyah merasa bersalah.
“Maafkan
aku, Fadlan. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Nggak ada yang
bisa kamu harapkan dari wanita yang mematrikan masa depannya pada sebuah
peristiwa lampau.”
“Iya,
Ais. Aku mengerti.”
Senja
itu, tidak ada yang berubah dari Aisyah. Mendung di wajahnya belum juga pergi
***
*Pernah dimuat di
majalah “Amore Vimcit Omnia”, Yogyakarta, April 2016. Cerpen ini juga tergabung
dalam Antologi Cerpen kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke -22 dengan judul
yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar