Oleh: Rendra Pirani
Kelopak
mawar berguguran menari-nari di pelupuk mata. Lalu jatuh tepat di telapak
tanganmu. Kau menggenggamnya erat, meremasnya menjadi remah, dan membiarkannya
terbawa angin kembali. Aku menatap dua bola lampu yang menyala dalam kelopak
matamu. Dan kau pasti tahu apa kelanjutannya; kutundukkan pandanganku, selalu. Aku
tidak pernah mampu menatap matamu lama. Bukan karena silau akan pesonamu. Tapi
karena gejolak hatiku yang tak menentu. Seolah ada puluhan meriam siap
melontarkan peluru-peluru baja tepat ke jantung hatimu. Namun urung kulakukan
setelah kutersadar kau bukan milikku lagi. Silau cahayamu perlahan meredup.
Lalu wujudmu berubah menjadi bayang yang sirna dihempas angin. Ujung mataku
berair. Rasanya perih, bukan hanya di kelopak mataku, tapi juga jauh dalam
ceruk hati.
Di
antara wangi bunga-bunga yang tergantung di tiap tiang pergola. Aku menyapu wajah
tamu undangan. Berharap kau hadir dalam
setiap keriuhan yang tercipta. Kau akan ikut bersorak seperti yang lain. Bertepuk
tangan dengan suara yang paling kencang. Tepuk tanganmulah yang paling kudengar
menyambut hari baru yang terbuka di hadapanku. Tapi sayang semua hanya ilusi.
Kau tidak memancarkan kilaumu pada semua pernik upacara yang dibalut warna putih.
Kau tidak ada. Apakah karena ini bukan pernikahan kita?
“Sampai
kapan pun kita nggak akan pernah bisa sama-sama lagi!”
Suaramu
memecah langit sore. Aku tergugu menunduk lesu. Bukankah kita pernah sepakat
untuk selalu bersama selamanya? Kau terseyum saat kukecup pipimu kala itu.
“Sayang,
kita bisa perbaiki semuanya sama-sama. Kita mulai lagi dari awal, ya?” Aku mencoba
meyakinkanmu. Berharap ada sedikit kesempatan untukku. Tapi raut wajahmu masih
membatu.
“Nggak!
Nggak ada yang perlu diperbaiki. Kita nggak cocok. Kamu nggak pernah bisa
hargai aku sebagai pacarmu!”
Mengapa
kau limpahkan segalanya padaku? Tidakkah kau tahu hatiku pun sakit tiap kali kau
kecewa.
“Iya,
semuanya salahku. Biar aku perbaiki semuanya. Tapi tolong jangan pergi. Kamu segalanya
buatku. Aku janji akan jadi laki-laki yang jauh lebih baik lagi buatmu.”
“Nggak
ada yang salah. Kita cuma perlu jalani hidup kita masing-masing. Mulai sekarang
kamu nggak perlu lagi libatkan aku dalam setiap kegiatanmu. Kamu nggak perlu
lagi cerita apapun padaku. Antara kita sudah nggak ada apa-apa lagi. Kita cuma
masa lalu yang harus dibiarkan lebur seiring waktu.”
Matamu
yang bulat memandangiku begitu lekat. Tak ada sedikit pun belas kasihan di
sana. Wajah yang kaku dan sorot mata yang tajam sudah membunuhku. Sejak saat itu,
aku menjadi orang yang berbeda meski kau tidak pernah percaya. Sampai hari
pernikahanku pun tiba, kau tak jua berubah.
Aku
menoleh pada sosok gadis manis yang duduk menemaniku di atas altar putih. Ia
memasang senyuman yang mampu memekarkan bunga-bunga. Tubuhnya yang ramping
dibalut gaun putih berenda dengan detail bunga-bunga menawan. Ini baru awal
dari perjalanan hidupku yang baru. Dan bersamanya, kuyakin semua akan baik-baik
saja.
Terima
kasih sudah menguatkanku, masa laluku. Terima kasih untuk segalanya.
-Tangerang, 16 November 2019-

