Minggu, 11 Desember 2016

PERSITA DAN KEBANGGAAN MENJADI ORANG TANGERANG



Persita sejatinya merupakan tim yang memiliki sejarah panjang pada persepakbolaan tanah air. Tim yang resmi disahkan PSSI tahun 1953 ini telah bermain sejak kompetisi Liga Indonesia baru bergulir pada tahun 1994. Liga Indonesia saat itu merupakan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia yang menandai peleburan kompetisi Galatama dan Perserikatan, serta menjadi turnamen terbesar sedunia yang diikuti 34 tim. Prestasi tertinggi Persita di ajang ini ialah menjadi runner up di tahun 2002. Hingga tahun 2007, Persita masih tercatat sebagai tim penghuni papan atas klasemen dan termasuk dalam jajaran tim elit Indonesia. Saya ingat saat Persita menjuarai turnamen pra musim, Jusuf Cup pada tahun 2007. Turnamen ini mampu dimenangkan Persita setelah mengalahkan PSM Makassar 1-0 di partai final. Pesta kembang api mewarnai Stadion Andi Matalatta Makassar. Saat itu untuk pertama kalinya saya bangga menjadi orang Tangerang.

Petaka dimulai saat ISL edisi pertama bergulir. ISL melarang tim sepakbola menggunakan dana APBD, hal yang riskan mengingat Persita termasuk tim yang mengandalkan dana tersebut dan membuatnya mendapat julukan tim plat kuning. Tapi bukan itu biang keroknya. Stadion Bentenglah yang menurut saya menjadi penyebab Persita menjadi tim ababil yang rajin bolak-balik dari ISL A ke ISL B. Ya, ISL mengharuskan perbaikan stadion Benteng apabila ingin digunakan sebagai home base dari Persita, meliputi rumputnya, pencahayaan, kebersihan dan kerapihan stadion, hingga sanitasi. Stadion Benteng berbenah, tapi pembenahannya tidak maksimal. Stadion itu akhirnya dinilai tidak layak oleh PSSI. Dan Persita akhirnya menjadi tim avonturir yang tidak memiliki Stadion. Jajaran pemain Persita saat itu sebagian besar dihuni oleh muka baru tapi nihil jam terbang. Saya percaya mereka pemain berbakat (salah satunya I Made Wirawan yang menjadi starter), terbukti mereka mampu meladeni Arema di parta pembuka ISL tahun itu. Tapi sekali lagi, minim jam terbang membuat mereka gagal memenangkan pertandingan malam itu (Pertandingan pembuka ISL). Persita kalah 3-0 di pertandingan pertamanya, mengawali rentetan buruknya di ISL edisi pertama. Berikutnya, Persita berturut-turut kalah di berbagai pertandingan, walaupun yang dihadapi tim kecil. Nama besar Persita runtuh. Tim ini kemudian didegradasi ke ISL B.

Kalau tidak salah, tiga tahun di ISL B, persita jadi runner UP lalu balik lagi ke ISL A, dan didegradasi kembali ke ISL B begitu kompetisi berakhir. Sampai akhinrya sepakbola Indonesia dibekukan FIFA. Saya yakin lingkaran setan ini akan terus menerus membelit Persita jika belum memiliki kandang. Persita seolah menjadi tim yang terlalu tangguh bagi tim-tim level kompetisi kedua, tapi terlalu lemah bagi tim-tim kuat di kompetisi tertinggi. 

Kabar baiknya, kini Pemkab Tangerang tengah menyelesaikan pembangunan stadion baru berlokasi di Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua Kabupaten Tangerang. Saya pernah ditanya oleh kawan saya yang orang Bandung sekaligus fans Persib, apa nama stadion baru Persita? Saya jawab saja Stadion Bojong Nangka, karena memang stadionnya berdiri di sana. Teman saya lalu tertawa. Tidak adakah nama yang lebih bagus, katanya. Lihatlah stadion baru Persib, stadion Gelora Bandung Lautan Api. Namanya bagus, bukan? Menanggapi pertanyaan itu, terus terang saya bingung mau menjawab apa. Apakah stadion baru Persita mau dinamakan Stadion Gelora Benteng Betawi, gitu? Atau mungkin biar agak-agak berbau Banten, kita beri nama Gelora Tirtayasa saja begitu? Anjay, saya yakin nama Tirtayasa masih asing di Telinga masyoritas orang Tangerang.

Tapi kawan, pembangunan stadion ini harus terus kita pantau. Setahu saya stadion ini masih berbentuk lapangan hijau yang dikelilingi tribun penonton separuh jadi. Target awalnya stadion ini kelar dibangun tahun ini, tapi nyatanya ngaret jadi tahun depan. Mudah-mudahan tidak mulur lagi mengingat stadion ini akan menemani Gelora Bung Karno dalam pagelaran Asian Games 2018. Selain itu, Persita juga kembali menunjukkan tajinya di kompetisi TSC B. Persita berhasil melaju ke babak 8 besar. Walau akhirnya terhenti ditangan PSCS. Tapi saya yakin, beberapa tahun lagi persita akan kembali ke ISL A. Karena itulah stadion Bojong Nangka harus secepatnya selesai dibangun, demi menyokong pergerakan Persita di ajang tertinggi sepak bola tanah air, dan kembali menjadi tim kebanggaan warga Tangerang.

Kamis, 08 Desember 2016

Perang Dingin Ahokers VS Ahok Haters








Aksi super damai 212 sejatinya merupakan representatif dari persatuan umat Islam yang luar biasa. Siapapun yang melihat peserta aksi memutihkan kawasan monas pasti akan bergetar hatinya, kagum menyaksikan kesolidan dari umat Islam. Kita semua tahu bahwa aksi super damai tersebut ditujukan untuk menekan pemerintah agar segera menahan Ahok. Tekanan yang bagi saya tidak berdasar mengingat proses hukum kepada yang bersangkutan sedang berjalan. Tindakan mereka justru memicu sebuah persepsi bahwa mereka tidak percaya kepada kinerja institusi penegak hukum di negeri ini, juga menimbulkan stigma bahwa mereka ingin memaksakan hukum keluar dari jalurnya. Tapi apapun itu, toh kasus ini mampu menyentak kesadaran beragama kita, bukan? Kasus ini juga mampu menyatukan berbagai lapisan umat Islam dari berbagai daerah. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal, kini mampu berjabat tangan mengikat persaudaraan. Jadi, mungkin ada baiknya apabila kita berterima kasih kepada Ahok yang kepeleset lidahnya itu.
            Berselang dua hari kemudian, aksi balasan berlanjut. “Parade Kita Indonesia” namanya. Mengapa saya bilang ini aksi balasan? Karena kita semua pasti tahu bahwa aksi ini tentu saja digalang oleh kelompok yang pro Ahok, atau lazim disebut Ahokers. Sementara aksi 212 sudah pasti diikuti oleh kelompok pembenci Ahok, atau Ahok haters.
            “Tidak benar, mereka hanya ingin kasus Ahok diselesaikan secara tegas!”
            Ya, saya tahu. Tapi munafik jika kita melupakan satu fakta bahwa sebagian yang mengikuti aksi tersebut telah terlanjur menanamkan kebenciannya kepada Ahok lantaran videonya di kepulauan seribu yang menjadi viral. Ada yang bertanya, mengapa tuntutan mengadili Ahok justru berujung kepada isu memecah kebhinekaan Indonesia? Jawabannya ada pada perkara minoritas dan mayoritas. Ahok berasal dari etnis Tionghoa dan beragama nasrani. Dia jelas minoritas. Ada orang-orang yang menganggap bahwa kelompok Ahok haters yang menuntut agar Ahok dihukum ialah kelompok yang tidak menyukai Ahok karena ia “cina” dan nasrani, sehingga tidak pantas menjadi Gubernur. Lebih jauh lagi, Ahok dianggap antek cina asing yang akan menjadi pintu masuk bagi etnis Tionghoa untuk menguasai negeri ini. Sungguh mimpi di siang bolong.
            Akibat stigma negatif dari Ahok haters inilah yang membuat mereka berpendapat bahwa kelompok ini telah melakukan tindakan intoleran dan berpotensi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekadar dijadikan bahan renungan saja, bahwa andaikan Ahok maju mencalonkan diri menjadi Gubernur saja, 46 % warga Jakarta pasti akan mendukung Ahok. Angka itu saya simpulkan dari hasil survei berbagai lembaga saat Ahok baru saja mencalonkan dirinya. Sedangkan warga Jakarta yang merupakan etnis Tionghoa jumlahnya hanya berkisar 10% saja. Sehingga isu mayoritas-minoritas tersebut jelas tidak berlaku karena yang mendukung Ahok di Jakarta pun mayoritas Umat Islam pribumi.
            Kemarin, ketika saya mengobrol dengan beberapa masyarakat etnis Tionghoa di Tangerang, mereka mengungkapkan kekhawatirannya pada kasus ini. Mereka takut kebencian umat Islam akan mengarah kepada mereka karena Ahok berasal dari etnis mereka. Dan kebencian tersebut akan berdampak pada tindakan anarkis. Mereka khawatir kejadian seperti 1998 akan terjadi lagi. Berkali-kali mereka katakan bahwa Ahok bukanlah representatif dari mereka. Mereka adalah etnis yang cinta damai dan berhati lembut. Gemar berbuat kebaikan kepada siapapun, dan tidak suka berkata kasar. Apa yang telah dikatakan Ahok, sama sekali tidak mewakili mereka.
            Pada penghujung obrolan kami, mereka menyadari bahwa setidaknya sampai saat ini kekhawatiran mereka tidak akan terjadi -dan jangan sampai terjadi- mengingat publik mengarahkan perhatiannya hanya kepada Ahok, tidak sampai kepada etnisnya.
            Kita semua tentu berharap agar masyarakat kita mampu bersikap dewasa. Apapun yang menjadi hasil akhir dalam persidangan nantinya haruslah kita terima dengan lapang dada. Andaikan Ahok terbukti bersalah dalam pengadilan, tentu ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya. Tapi kalaupun ternyata Ahok tidak bersalah, kita berbaik sangka saja kepada aparat penegak hukum, mungkin memang kita yang salah karena mudah tersulut emosi dan cenderung tidak mampu berpikir dingin, serta bersikap bijak dalam menyikapi kasus ini. Apapun hasil akhirnya, NKRI harga mati dan harus kita jaga persatuannya.

Catatan: Pernah dimuat di harian Banten News tanggal 7 Desember 2016