Kamis, 08 Desember 2016

Perang Dingin Ahokers VS Ahok Haters








Aksi super damai 212 sejatinya merupakan representatif dari persatuan umat Islam yang luar biasa. Siapapun yang melihat peserta aksi memutihkan kawasan monas pasti akan bergetar hatinya, kagum menyaksikan kesolidan dari umat Islam. Kita semua tahu bahwa aksi super damai tersebut ditujukan untuk menekan pemerintah agar segera menahan Ahok. Tekanan yang bagi saya tidak berdasar mengingat proses hukum kepada yang bersangkutan sedang berjalan. Tindakan mereka justru memicu sebuah persepsi bahwa mereka tidak percaya kepada kinerja institusi penegak hukum di negeri ini, juga menimbulkan stigma bahwa mereka ingin memaksakan hukum keluar dari jalurnya. Tapi apapun itu, toh kasus ini mampu menyentak kesadaran beragama kita, bukan? Kasus ini juga mampu menyatukan berbagai lapisan umat Islam dari berbagai daerah. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal, kini mampu berjabat tangan mengikat persaudaraan. Jadi, mungkin ada baiknya apabila kita berterima kasih kepada Ahok yang kepeleset lidahnya itu.
            Berselang dua hari kemudian, aksi balasan berlanjut. “Parade Kita Indonesia” namanya. Mengapa saya bilang ini aksi balasan? Karena kita semua pasti tahu bahwa aksi ini tentu saja digalang oleh kelompok yang pro Ahok, atau lazim disebut Ahokers. Sementara aksi 212 sudah pasti diikuti oleh kelompok pembenci Ahok, atau Ahok haters.
            “Tidak benar, mereka hanya ingin kasus Ahok diselesaikan secara tegas!”
            Ya, saya tahu. Tapi munafik jika kita melupakan satu fakta bahwa sebagian yang mengikuti aksi tersebut telah terlanjur menanamkan kebenciannya kepada Ahok lantaran videonya di kepulauan seribu yang menjadi viral. Ada yang bertanya, mengapa tuntutan mengadili Ahok justru berujung kepada isu memecah kebhinekaan Indonesia? Jawabannya ada pada perkara minoritas dan mayoritas. Ahok berasal dari etnis Tionghoa dan beragama nasrani. Dia jelas minoritas. Ada orang-orang yang menganggap bahwa kelompok Ahok haters yang menuntut agar Ahok dihukum ialah kelompok yang tidak menyukai Ahok karena ia “cina” dan nasrani, sehingga tidak pantas menjadi Gubernur. Lebih jauh lagi, Ahok dianggap antek cina asing yang akan menjadi pintu masuk bagi etnis Tionghoa untuk menguasai negeri ini. Sungguh mimpi di siang bolong.
            Akibat stigma negatif dari Ahok haters inilah yang membuat mereka berpendapat bahwa kelompok ini telah melakukan tindakan intoleran dan berpotensi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekadar dijadikan bahan renungan saja, bahwa andaikan Ahok maju mencalonkan diri menjadi Gubernur saja, 46 % warga Jakarta pasti akan mendukung Ahok. Angka itu saya simpulkan dari hasil survei berbagai lembaga saat Ahok baru saja mencalonkan dirinya. Sedangkan warga Jakarta yang merupakan etnis Tionghoa jumlahnya hanya berkisar 10% saja. Sehingga isu mayoritas-minoritas tersebut jelas tidak berlaku karena yang mendukung Ahok di Jakarta pun mayoritas Umat Islam pribumi.
            Kemarin, ketika saya mengobrol dengan beberapa masyarakat etnis Tionghoa di Tangerang, mereka mengungkapkan kekhawatirannya pada kasus ini. Mereka takut kebencian umat Islam akan mengarah kepada mereka karena Ahok berasal dari etnis mereka. Dan kebencian tersebut akan berdampak pada tindakan anarkis. Mereka khawatir kejadian seperti 1998 akan terjadi lagi. Berkali-kali mereka katakan bahwa Ahok bukanlah representatif dari mereka. Mereka adalah etnis yang cinta damai dan berhati lembut. Gemar berbuat kebaikan kepada siapapun, dan tidak suka berkata kasar. Apa yang telah dikatakan Ahok, sama sekali tidak mewakili mereka.
            Pada penghujung obrolan kami, mereka menyadari bahwa setidaknya sampai saat ini kekhawatiran mereka tidak akan terjadi -dan jangan sampai terjadi- mengingat publik mengarahkan perhatiannya hanya kepada Ahok, tidak sampai kepada etnisnya.
            Kita semua tentu berharap agar masyarakat kita mampu bersikap dewasa. Apapun yang menjadi hasil akhir dalam persidangan nantinya haruslah kita terima dengan lapang dada. Andaikan Ahok terbukti bersalah dalam pengadilan, tentu ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya. Tapi kalaupun ternyata Ahok tidak bersalah, kita berbaik sangka saja kepada aparat penegak hukum, mungkin memang kita yang salah karena mudah tersulut emosi dan cenderung tidak mampu berpikir dingin, serta bersikap bijak dalam menyikapi kasus ini. Apapun hasil akhirnya, NKRI harga mati dan harus kita jaga persatuannya.

Catatan: Pernah dimuat di harian Banten News tanggal 7 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar