Jumat, 15 November 2019

Di Hari Pernikahan

Oleh: Rendra Pirani

Kelopak mawar berguguran menari-nari di pelupuk mata. Lalu jatuh tepat di telapak tanganmu. Kau menggenggamnya erat, meremasnya menjadi remah, dan membiarkannya terbawa angin kembali. Aku menatap dua bola lampu yang menyala dalam kelopak matamu. Dan kau pasti tahu apa kelanjutannya; kutundukkan pandanganku, selalu. Aku tidak pernah mampu menatap matamu lama. Bukan karena silau akan pesonamu. Tapi karena gejolak hatiku yang tak menentu. Seolah ada puluhan meriam siap melontarkan peluru-peluru baja tepat ke jantung hatimu. Namun urung kulakukan setelah kutersadar kau bukan milikku lagi. Silau cahayamu perlahan meredup. Lalu wujudmu berubah menjadi bayang yang sirna dihempas angin. Ujung mataku berair. Rasanya perih, bukan hanya di kelopak mataku, tapi juga jauh dalam ceruk hati.
Di antara wangi bunga-bunga yang tergantung di tiap tiang pergola. Aku menyapu wajah  tamu undangan. Berharap kau hadir dalam setiap keriuhan yang tercipta. Kau akan ikut bersorak seperti yang lain. Bertepuk tangan dengan suara yang paling kencang. Tepuk tanganmulah yang paling kudengar menyambut hari baru yang terbuka di hadapanku. Tapi sayang semua hanya ilusi. Kau tidak memancarkan kilaumu pada semua pernik upacara yang dibalut warna putih. Kau tidak ada. Apakah karena ini bukan pernikahan kita?
“Sampai kapan pun kita nggak akan pernah bisa sama-sama lagi!”
Suaramu memecah langit sore. Aku tergugu menunduk lesu. Bukankah kita pernah sepakat untuk selalu bersama selamanya? Kau terseyum saat kukecup pipimu kala itu.
“Sayang, kita bisa perbaiki semuanya sama-sama. Kita mulai lagi dari awal, ya?” Aku mencoba meyakinkanmu. Berharap ada sedikit kesempatan untukku. Tapi raut wajahmu masih membatu.
“Nggak! Nggak ada yang perlu diperbaiki. Kita nggak cocok. Kamu nggak pernah bisa hargai aku sebagai pacarmu!”
Mengapa kau limpahkan segalanya padaku? Tidakkah kau tahu hatiku pun sakit tiap kali kau kecewa.
“Iya, semuanya salahku. Biar aku perbaiki semuanya. Tapi tolong jangan pergi. Kamu segalanya buatku. Aku janji akan jadi laki-laki yang jauh lebih baik lagi buatmu.”
“Nggak ada yang salah. Kita cuma perlu jalani hidup kita masing-masing. Mulai sekarang kamu nggak perlu lagi libatkan aku dalam setiap kegiatanmu. Kamu nggak perlu lagi cerita apapun padaku. Antara kita sudah nggak ada apa-apa lagi. Kita cuma masa lalu yang harus dibiarkan lebur seiring waktu.”
Matamu yang bulat memandangiku begitu lekat. Tak ada sedikit pun belas kasihan di sana. Wajah yang kaku dan sorot mata yang tajam sudah membunuhku. Sejak saat itu, aku menjadi orang yang berbeda meski kau tidak pernah percaya. Sampai hari pernikahanku pun tiba, kau tak jua berubah.
Aku menoleh pada sosok gadis manis yang duduk menemaniku di atas altar putih. Ia memasang senyuman yang mampu memekarkan bunga-bunga. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun putih berenda dengan detail bunga-bunga menawan. Ini baru awal dari perjalanan hidupku yang baru. Dan bersamanya, kuyakin semua akan baik-baik saja.
Terima kasih sudah menguatkanku, masa laluku. Terima  kasih untuk segalanya.


-Tangerang, 16 November 2019-