Rabu, 01 Februari 2023

Penunggu Sawah

 Rendra Pirani

Maman pias wajahnya, rautnya memerah. Terik mentari membakar kulitnya. Ia gusar laksana api yang tak kunjung padam. Sepetak sawah di hadapannyalah penyebabnya. Ia lantas turun dari pematang. Didekatinya rumpun padi yang mengering sebelum waktunya. Harusnya padi-padi di sini masih hijau, gemuk, dan mulai merunduk. Tapi sekarang lihatlah, separuh dari rumpun padi di petak ini justru berwarna kecokelatan, layu.

Maman berjongkok, dicabutnya sebatang padi yang mati tanpa isi. Seluruh persendian Maman serasa lumpuh kemudian, sebelum akhirnya ia luruh ke tanah, tak sanggup berdiri. Bagaimana mungkin ia gagal panen tahun ini. Bukankah selama ini ia adalah petani teladan karena hasil panennnya yang selalu mengagumkan? Lewat hasil panen itulah ia mampu menghidupi keluarganya. Termasuk membiayai kuliah putri pertamannya. Tapi kini, bagaimana mungkin rupiah mengalir ke kantongnya jika padinya saja mati mengering?

“Sundep, Man.”

Maman menoleh. Warijo tetangganya rupanya berdiri di belakangnya. Wajahnya sendu menutup Maman.

“Kamu sih panen kemarin tidak sukuran.” 

Maman menunduk. Warijo lantas pergi begitu saja. Haruskah Maman menyalahkan ritual sialan itu? Apa salahnya jika ia tidak memberi makan penunggu sawah dengan bugana lepas panen kemarin? Ia tidak melakukannya bukan tanpa alasan. Putri pertamanya merengek karena biaya kuliahnya belum terbayarkan, istrinya memelas hendak dibelikan cincin bermata putih yang ia lihat di toko emas tempo hari, anak-anaknya yang kecil menangis dan tidak mau makan jika tidak diberikan mainan impor. Lebih baik ia memenuhi semua keinginan keluarganya daripada menjalankan kebiasaan turun temurun di kampungnya. Lagipula itu hanya ritual biasa, bukan? Mana mungkin ia gagal panen hanya karena tidak ada potongan ayam panggang dan nasi kuning tersaji di tiap sudut sawahnya.

Maman menyesali keputusannya. Ia lantas merutuki dirinya sendiri yang begitu arogan tidak mengakui jasa-jasa penunggu sawah yang kasat mata itu. Oh, andaikan waktu dapat diulang, tidak akan ia mengulangi kebodohannya. Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana cara membayar tunggakan kuliah putrinya. Meminjam kepada para tetangga? Mustahil. Mereka semua juga miskin. Bekerja serabutan menjadi buruh harian lepas? Oh, upahnya terlalu kecil. Menjadi nelayan? Tidak, tidak, Maman tidak pernah melaut. Lagipula ia tidak pandai berenang, kalau tenggelam bagaimana?

Padahal tidak lama lagi putrinya akan diwisuda. Satu-satunya mahasiswa yang berasal dari kampungnya akan mengenakan toga. Ia akan menjadi pesohor, karena berhasil menjadikan putrinya dokter. Ya, dokter pertama di desanya yang bukan turunan cina. Di saat pemuda yang lain justru sibuk menjadi kuli pabrik, putrinya justru mengobati orang-orang sakit. Tapi bagaimana semuanya bisa terwujud, jika tunggakan itu tidak segera dilunasi? Ada gengsi disana. Ia tidak ingin putrinya gagal, atau ia akan menjadi bahan olok-olok sekampung.

“Sia-sia kuliah. Nanti juga ujungnya kerja di pabrik juga. Atau paling si Maman bakal ngawinin putrinya itu sama orang kaya,” begitulah rupa ucapan yang akan ia dengar dari tetangga yang nyinyir pada kegagalannya.

Tiba-tiba ia teringat pada kedatangan beberapa bapak berdasi dan berkepala botak di kampungnya. Mereka menawari uang ratusan juta dengan syarat tanah milik warga diserahkan pada mereka. Untuk apa? Bertani seperti Maman? Jelas tidak, mereka hanya ingin menggali tanahnya, lalu pasir yang terkumpul akan dijadikan penyokong pembangunan gedung-gedung bertingkat di kota.

“Bapak-Bapak dan ibu-ibu sekalian tidak perlu khawatir. Harga tawar kami tinggi, tidak akan merugikan bapak-bapak sekalian. Lagipula, persawahan di sini sangatlah luas. Tanah sawah yang kami beli dan gali nanti, akan menjadi danau yang berguna untuk mengairi sawah bapak

bapak sekalian,” Jelas seorang Bapak. Maman tidak ingat siapa namanya. Yang jelas jika bapak-bapak yang lain botaknya di tengah, yang ini botaknya di depan.

“Tanah-tanah bapak akan sangat berguna demi mendukung pembangunan di kota. Apalagi dalam mendukung pembentukan International City,” lanjutnya lagi.

“Jo, apa tadi aku tidak salah dengar, kenapa nama Siti disebut-sebut ya?” Maman heran, ada apa dengan janda beranak dua itu.

“Aku juga tidak tahu, Man. Tidak penting omongan bapak-bapak ini, yang penting aku bisa makan, dapur tetep ngebul, uang selalu tersedia di dompet.”

Maman mengangguk, mengiyakan. Selesai seminar di balai desa, tidak ada yang bertanya apakah kegiatan penggalian ini sudah mendapat izin atau belum. Termasuk pegawai desa, mereka bungkam. Bedanya, jika warga gelisah tidak tahu apa yang hendak dilakukan, para pegawai itu justru tampak senang. Penyebabnya jelas, sebelum seminar diadakan, mereka telah melihat senyum para pahlawan di dalam kantong coklat tebal.

Setelah ada seorang warga yang menjual tanahnya, penggalian benar-benar dilakukan. Sawah itu lalu menjadi danau. Hanya saja tidak ada yang menyangka kalau danau itu kelak akan begitu dalam.

Maman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akankah petak sawahnya berubah menjadi danau?

Ah, harusnya Maman tidak perlu gelisah. Ia masih punya beberapa petak sawah yang lain, bukan? Hanya satu petak sawah tentu tidak jadi masalah. Tapi ada hal lain yang ia pikirkan; Penunggu sawah pasti akan marah.

“Sudahlah, peduli amat sama jin-jin di sawah ini!”

Maman mulai berdiri. Ia jejakkan kakinya kembali ke pematang. Rasa ingin tahunya membimbing kakinya untuk melangkah mendekati galian yang tidak jauh dari sawahnya. Kini dihadapannya tampak permukaan air galian berwarna biru yang beriak tenang. Barangsiapa yang menceburkan diri ke dalamnya, pasti tidak akan selamat. Ia akan tenggelam, dan jasadnya baru akan mengapung beberapa hari kemudian.

Bulan lalu, seorang pemuda dari kecamatan sebelah berniat memancing di galian ini. Saat memancing, entah mengapa ada yang menarik kakinya hingga ia tercebur ke dalam galian. Seluruh pemuda kampung yang pandai berenang telah menyelami galian ini. Tapi tubuh si pemuda seolah raib entah kemana. Barulah beberapa hari kemudian jasad si pemuda yang telah membengkak muncul sendiri ke permukaan. Orang-orang di sini percaya bahwa si pemuda mati bukannya tanpa sebab, pasti penunggu sawah ini meminta tumbal. Dan si pemudalah yang menjadi mangsanya.

Maman sebenarnya tidak percaya kisah itu. Matinya si pemuda pastilah disebabkan kecerobohan si pemuda itu sendiri. Soal tubuh yang juga tidak ditemukan penyebabnya tak lain adalah warna danau ini, ditambah kedalamannya yang pasti sulit ditembus mata manusia.

Kini Maman hendak pulang ke rumahnya. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya yang kuyu. Akan ia sampaikan apa yang menjadi keputusannya kepada anggota keluarganya. Tidak ada masalah yang tanpa solusi. Termasuk alternatif untuk mengganti kerugian akibat sundep yang ia alami. Maman melangkah dengan tegak. Di sepanjang perjalanan, senyumnya tak mau pergi.

***

Kegaduhan terjadi di jalanan tak beraspal. Serombongan warga berupaya mengejar langkah cepat Darso. Kemarin mayat anaknya yang baru berumur belasan tahun ditemukan mengambang di permukaan galian pasir.

“Maman harus bertanggung jawab!” Teriaknya sambil mengangkat sebilah golok tinggi-tinggi.

Ia hampir memasuki pekarangan rumah Maman. Beberapa orang pemuda menghadangnya, memegangi tubuhnya, tapi percuma. Amukan Darso terlalu kuat. Sadar keselamatan keluarganya dalam bahaya, Maman memilih keluar daripada harus bersembunyi di dalam rumah. Ia ingin menenangkan Darso. Sayang, belum sempat ia menjumpai wajah Darso, mata golok telah melewati lehernya.

***

(Dimuat di Majalah Sastra Kandaga edisi III, Desember 2016)

Saat Cerita-Cerita Seram yang Kau Dengar menjadi Nyata

Oleh: Rendra Pirani

Penilaian dan persepsi setiap orang terhadap film akan berbeda-beda tergantung seberapa luas wawasannya. Kaitannya dengan film horror, ada banyak elemen yang membuat film bergenre tersebut dikatakan “menyeramkan”. Umumnya film horror akan sangat mengandalkan efek suara, riasan wajah, termasuk adegan berteriak (yang lazim disebut jumpscare) untuk menakuti penonton (untuk film seperti ini, rasanya tidak dibutuhkan wawasan tinggi untuk mencernanya). Dibanding terus membangun setting secara perlahan lalu memberikan punchline di saat yang tepat (cara ini biasanya hanya dipakai di awal film saja dan terasa lebih menakutkan bagi banyak orang). Meski ada saja film horror yang menggebrak formula itu dan berhasil sukses; sebut saja Hereditary, the Witch, atau Autopsy of Jane Doe. Hanya saja, untuk cara terakhir yang saya sebutkan tadi, tidak semua penonton merasakan sensasinya. Entah karena tidak menyimak secara detail, ogah mengikuti jalan ceritanya, atau yang lain. Intinya, kembali ke kalimat pembuka tulisan ini; Penilaian dan persepsi setiap orang terhadap film akan berbeda-beda tergantung seberapa luas wawasannya. Scary Stories to Tell in The Dark berada di antara dilema tersebut; berusaha untuk konsisten menyajikan horror yang berbeda, meski pada akhirnya mengikuti formula pasar.

Film ini diproduseri langsung oleh sineas kawakan; Guillermo Del Toro, yang mestinya hanya dengan mendengar namanya saja sudah menjadi jaminan dari kualiasnya. Sedangkan sutradara film ini; Andre Ovredal sebelumnya sukses menyutradarai Autopsy of Jane Doe, salah satu film horror favorit saya yang sudah saya sebutkan di atas. Prakitis, saya tidak punya alasan untuk tidak menonton film ini.

Gambar Ovredal dan Del Toro

Sumber: theknockturnal.com

Scary Stories to Tell in The Dark, dari judulnya saja kita sudah tahu kalau film ini bercerita tentang “Cerita-Cerita” horror itu sendiri; Cerita-cerita horror pendek menakutkan seperti yang biasa kita dengar sendiri dari teman, orang tua, atau kakek nenek kita. Kita tidak peduli apakah cerita itu masuk akal atau tidak, bagaimana cerita itu bermula, mengapa wujud hantunya “unik”; kita tidak peduli semua itu, yang jelas ceritanya mengasyikkan, menyeramkan, dan enak diceritakan kembali. Begitulah sensasi menonton film ini. Anda akan dibuat menyelami tiap kisah pendek yang meneror tiap tokohnya satu persatu. Menegangkan, tapi menyenangkan. Mirip seperti sensasi membaca kumpulan cerpen horror lawas berjudul sama yang menjadi referensi dari film ini.

Plot film ini sebenarnya sederhana saja (bahkan sangat pasaran), tentang sekumpulan anak yang mendatangi rumah tua saat malam Hollywood (kalau di Indonesia, ide film ini pasti akan berakhir menjadi horror konyol, tapi tidak di tangan Del Toro dan Ovredal). Di sanalah mereka menemukan buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh seorang wanita yang sudah meninggal. Keanehan terjadi setelah mereka membaca kisah-kisah dalam buku itu. Yah, semua kisahnya menjadi nyata! Terkesan cheesy, bukan? Tapi jangan salah, film ini jauh lebih baik dari film horor yang hanya mengandalkan teriakan. Setting film ini pun begitu detail (menggunakan latar tahun 1968 menjelang perang Vietnam). Saya tidak menemukan satu pun kesalahan dalam setiap momen dalam tiap scene-nya. Tiap tempatnya, semua suasananya, properti, aksesoris, semuanya benar-benar mewakili Amerika pada masa itu

Belum lagi jalinan cerita yang rapi, efek suara dan CGI yang pas, permainan tone yang baik, film ini berhasil mencekam penonton (meski tidak sedahsyat IT) dengan cara yang “menyenangkan”. Anda tidak hanya akan dibuat tegang, tapi juga menikmati tiap cerita pendek horror tradisional Amerika dalam film ini. Yah, minimal sepulangnya dari bioskop, koleksi cerpen horror untuk Anda ceritakan pada teman atau adik kecil Anda bertambah.

Gambar Harold the Jangly Man

Sumber: refinery29.com

Sayangnya setelah dua pertiga durasi film, film ini memutuskan untuk berakhir dengan cara yang sangat biasa, menggunakan formula horor ala James Wan; di mana jumpscare akhirnya dipakai saat sesosok monster mengejar-ngejar salah satu tokoh utama, Ramon Morales. Tidak ada lagi ketegangan, penasaran, dan ketakutan, hanya “seru” saja melihat tokoh kita dikejar-kejar makhluk aneh. Untungnya momen seperti ini tidak banyak. Sehingga saya masih bisa melabeli film horror ini berbeda dengan film horror kebanyakan dan sangat disayangkan kalau dilewatkan begitu saja. Saya beri nilai 8 dari 10.

***

(Dimuat di gunyam.com, 31Agustus 2019).

Jumat, 15 November 2019

Di Hari Pernikahan

Oleh: Rendra Pirani

Kelopak mawar berguguran menari-nari di pelupuk mata. Lalu jatuh tepat di telapak tanganmu. Kau menggenggamnya erat, meremasnya menjadi remah, dan membiarkannya terbawa angin kembali. Aku menatap dua bola lampu yang menyala dalam kelopak matamu. Dan kau pasti tahu apa kelanjutannya; kutundukkan pandanganku, selalu. Aku tidak pernah mampu menatap matamu lama. Bukan karena silau akan pesonamu. Tapi karena gejolak hatiku yang tak menentu. Seolah ada puluhan meriam siap melontarkan peluru-peluru baja tepat ke jantung hatimu. Namun urung kulakukan setelah kutersadar kau bukan milikku lagi. Silau cahayamu perlahan meredup. Lalu wujudmu berubah menjadi bayang yang sirna dihempas angin. Ujung mataku berair. Rasanya perih, bukan hanya di kelopak mataku, tapi juga jauh dalam ceruk hati.
Di antara wangi bunga-bunga yang tergantung di tiap tiang pergola. Aku menyapu wajah  tamu undangan. Berharap kau hadir dalam setiap keriuhan yang tercipta. Kau akan ikut bersorak seperti yang lain. Bertepuk tangan dengan suara yang paling kencang. Tepuk tanganmulah yang paling kudengar menyambut hari baru yang terbuka di hadapanku. Tapi sayang semua hanya ilusi. Kau tidak memancarkan kilaumu pada semua pernik upacara yang dibalut warna putih. Kau tidak ada. Apakah karena ini bukan pernikahan kita?
“Sampai kapan pun kita nggak akan pernah bisa sama-sama lagi!”
Suaramu memecah langit sore. Aku tergugu menunduk lesu. Bukankah kita pernah sepakat untuk selalu bersama selamanya? Kau terseyum saat kukecup pipimu kala itu.
“Sayang, kita bisa perbaiki semuanya sama-sama. Kita mulai lagi dari awal, ya?” Aku mencoba meyakinkanmu. Berharap ada sedikit kesempatan untukku. Tapi raut wajahmu masih membatu.
“Nggak! Nggak ada yang perlu diperbaiki. Kita nggak cocok. Kamu nggak pernah bisa hargai aku sebagai pacarmu!”
Mengapa kau limpahkan segalanya padaku? Tidakkah kau tahu hatiku pun sakit tiap kali kau kecewa.
“Iya, semuanya salahku. Biar aku perbaiki semuanya. Tapi tolong jangan pergi. Kamu segalanya buatku. Aku janji akan jadi laki-laki yang jauh lebih baik lagi buatmu.”
“Nggak ada yang salah. Kita cuma perlu jalani hidup kita masing-masing. Mulai sekarang kamu nggak perlu lagi libatkan aku dalam setiap kegiatanmu. Kamu nggak perlu lagi cerita apapun padaku. Antara kita sudah nggak ada apa-apa lagi. Kita cuma masa lalu yang harus dibiarkan lebur seiring waktu.”
Matamu yang bulat memandangiku begitu lekat. Tak ada sedikit pun belas kasihan di sana. Wajah yang kaku dan sorot mata yang tajam sudah membunuhku. Sejak saat itu, aku menjadi orang yang berbeda meski kau tidak pernah percaya. Sampai hari pernikahanku pun tiba, kau tak jua berubah.
Aku menoleh pada sosok gadis manis yang duduk menemaniku di atas altar putih. Ia memasang senyuman yang mampu memekarkan bunga-bunga. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun putih berenda dengan detail bunga-bunga menawan. Ini baru awal dari perjalanan hidupku yang baru. Dan bersamanya, kuyakin semua akan baik-baik saja.
Terima kasih sudah menguatkanku, masa laluku. Terima  kasih untuk segalanya.


-Tangerang, 16 November 2019-

Sabtu, 16 Februari 2019

Sandiwara Terindah




           Rini menangkap pantulan wajahnya pada gelas kaca. Satu jam yang lalu ia mendapati ice cappuccino di dalamnya, tapi yang kini ia temukan hanyalah bayangan sepasang mata merah yang beranak sungai di pipi. Isinya sudah tandas, padahal kegundahan hatinya masih membatu. Lebih parah lagi, gelas itu malah  mengingatkannya pada seseorang yang selama dua purnama menghilang dari hidupnya begitu saja.
            Biasanya dengan minuman itu Rini menghabiskan senjanya yang berharga bersama Ghifar. Mereka akan mendebat rutinitas apa yang seharian ini telah mereka lewati. Karena hanya dengan cara itulah lelah yang mereka rasakan akan sirna. Tapi bagi Rini lebih dari itu, ia mampu membunuh satu rasa yang setiap detik mendekap batinnya; kerinduan. Sayang Ghifar tak pernah tahu.
            “Ghifar, kenapa sih kamu nggak pernah rapihin rambut kamu?” Tanya Rini suatu hari. Ia memandangi wajah kusut laki-laki yang duduk di hadapannya.
            “Nggak sempet, Rin,” jawabnya singkat, sambil menggambari sketsa pada selembar kertas.
            “Tapi kamu sempet main ke kafe ini setiap hari?”
            “Yah karena kopi buatanmu enak.”
            Hanya itu?
            “Kamu gambar apa sih?” Rini mendongak, tapi Ghifar lebih dulu membalik kertasnya.
         “Jangan dilihat, yang ini belum selesai! Kalau mau, kamu bisa lihat yang itu,” ia melirik tumpukan kertas yang lain. Rini menurutinya.
            “ Kamu arsitek?”
            “Iya, lagi banyak proyek sekarang.”
            “Ooh.”
             Rini Sekali dua melirik Ghifar, tapi Ghifar sendiri malah sibuk dengan pekerjaannya. Selama satu jam mereka duduk berhadapan, hanya hitugan jari Ghifar melihat wajahnya. Rini bosan, ia ingin menggoda Ghifar, sekaligus menjawab rasa penasarannya. Diletakkannya kertas sketsa itu seperti semula.
         “Kenapa kamu nggak pernah bawa pasanganmu ke mari?” Rini menanyakannya seraya tersenyum.
            “Baru putus, Rin.”
            “Loh kenapa?”
            Ghifar meletakkan pensil. Mereka bersitatap. Rini menyadari ada yang aneh pada sepasang mata elang itu. Ia kehilangan ketajamannya.
            Please, jangan bahas itu, Rin.”
          Setelahnya, Rini tidak pernah bertanya lagi adakah wanita yang mengisi hati laki-laki berambut gimbal itu. Ia tidak berani. Seperti ketidakmampuannya mengungkapkan perasaannya hingga saat ini.
            Air mata Rini jatuh lagi.
          Ah, sial. Mengapa aku mudah menangis sekarang? Bukankah Ghifar baru menghilang satu bulan? Bukankah esok aku akan kehilangan Ghifar untuk selamanya. Tunggu, aku tidak pernah memiliki Ghifar! Ia hanya datang untuk menghapus lukanya setelah ditinggal mantan kekasihnya. Ia kemari untuk mencari hiburan, dan aku tidak lebih dari sekedar temannya saja, bukan?!
            Rini terisak. Untungnya ini hari Jumat. Kafe libur. Ia menyimpan kuncinya dan sengaja ke sini hanya untuk mengenang kebersamaannya dengan Ghifar. Konyol. Untuk apa mengenang seseorang yang telah pergi dari hidup kita, apabila kita tahu ia tidak akan kembali?  
***
            Ghifar memberanikan diri membuka lemari. Ada pakaian pengantin yang akan ia gunakan esok hari. Dengan cepat ia meraih pakaian itu dan melemparkannya ke atas ranjang. Kini tampak di hadapannya, sketsa wajah wanita cantik dengan rambut lurus terikat. Dibagian bawah kertas sketsa itu tertulis sebuah kalimat;
            Wanita teristimewa yang tidak pernah mampu kugenggam.
Lama ia memandangi gambar itu sebelum ia membenturkan kepalanya berkali-kali pada permukaan lemari.
            Bodoh! Bodoh! Bodoh!
            Mengapa aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepada barista itu? Bukankah ia layak tahu perasaanku, walaupun aku hendak menikahi wanita lain?
            Setelah Desi meninggalkannya, ia dengan mudahnya menyetujui usulan orangtuanya untuk mencarikannya calon pendamping hanya karena frustasi. Padahal cinta bisa datang darimana saja, dengan cara yang tidak terduga.
            Setiap sore ia sengaja datang ke kafe pelangi hanya untuk menghibur dirinya. Tapi lama kelamaan, ia justru merasa tenang dan nyaman saat ada seorang barista yang mau menemaninya melewati senja. Ia sengaja menyibukkan dirinya dengan menggambar berbagai sketsa, untuk mengusir gugup yang mendekapnya. Cara itu selama ini berhasil. Tapi si gadis tidak pernah tahu, ada sketsa teristimewa yang tidak pernah ia lihat, tersembunyi dibalik segala sketsa bangunan bertingkat. Ghifar merutuki dirinya sendiri. Ia sungguh laki-laki pengecut.
            Kini ia harus melupakan sang barista, walau ia tahu lebih mudah menghapus gambar itu daripada menghapus bayangannya di pikirannya.
***
Yogyakarta, 2016.
Cerpen ini merupakan hasil challenge menulis cerpen 2 jam yang diadakan oleh Kampus Fiksi Diva Press.

Minggu, 11 Desember 2016

PERSITA DAN KEBANGGAAN MENJADI ORANG TANGERANG



Persita sejatinya merupakan tim yang memiliki sejarah panjang pada persepakbolaan tanah air. Tim yang resmi disahkan PSSI tahun 1953 ini telah bermain sejak kompetisi Liga Indonesia baru bergulir pada tahun 1994. Liga Indonesia saat itu merupakan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia yang menandai peleburan kompetisi Galatama dan Perserikatan, serta menjadi turnamen terbesar sedunia yang diikuti 34 tim. Prestasi tertinggi Persita di ajang ini ialah menjadi runner up di tahun 2002. Hingga tahun 2007, Persita masih tercatat sebagai tim penghuni papan atas klasemen dan termasuk dalam jajaran tim elit Indonesia. Saya ingat saat Persita menjuarai turnamen pra musim, Jusuf Cup pada tahun 2007. Turnamen ini mampu dimenangkan Persita setelah mengalahkan PSM Makassar 1-0 di partai final. Pesta kembang api mewarnai Stadion Andi Matalatta Makassar. Saat itu untuk pertama kalinya saya bangga menjadi orang Tangerang.

Petaka dimulai saat ISL edisi pertama bergulir. ISL melarang tim sepakbola menggunakan dana APBD, hal yang riskan mengingat Persita termasuk tim yang mengandalkan dana tersebut dan membuatnya mendapat julukan tim plat kuning. Tapi bukan itu biang keroknya. Stadion Bentenglah yang menurut saya menjadi penyebab Persita menjadi tim ababil yang rajin bolak-balik dari ISL A ke ISL B. Ya, ISL mengharuskan perbaikan stadion Benteng apabila ingin digunakan sebagai home base dari Persita, meliputi rumputnya, pencahayaan, kebersihan dan kerapihan stadion, hingga sanitasi. Stadion Benteng berbenah, tapi pembenahannya tidak maksimal. Stadion itu akhirnya dinilai tidak layak oleh PSSI. Dan Persita akhirnya menjadi tim avonturir yang tidak memiliki Stadion. Jajaran pemain Persita saat itu sebagian besar dihuni oleh muka baru tapi nihil jam terbang. Saya percaya mereka pemain berbakat (salah satunya I Made Wirawan yang menjadi starter), terbukti mereka mampu meladeni Arema di parta pembuka ISL tahun itu. Tapi sekali lagi, minim jam terbang membuat mereka gagal memenangkan pertandingan malam itu (Pertandingan pembuka ISL). Persita kalah 3-0 di pertandingan pertamanya, mengawali rentetan buruknya di ISL edisi pertama. Berikutnya, Persita berturut-turut kalah di berbagai pertandingan, walaupun yang dihadapi tim kecil. Nama besar Persita runtuh. Tim ini kemudian didegradasi ke ISL B.

Kalau tidak salah, tiga tahun di ISL B, persita jadi runner UP lalu balik lagi ke ISL A, dan didegradasi kembali ke ISL B begitu kompetisi berakhir. Sampai akhinrya sepakbola Indonesia dibekukan FIFA. Saya yakin lingkaran setan ini akan terus menerus membelit Persita jika belum memiliki kandang. Persita seolah menjadi tim yang terlalu tangguh bagi tim-tim level kompetisi kedua, tapi terlalu lemah bagi tim-tim kuat di kompetisi tertinggi. 

Kabar baiknya, kini Pemkab Tangerang tengah menyelesaikan pembangunan stadion baru berlokasi di Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua Kabupaten Tangerang. Saya pernah ditanya oleh kawan saya yang orang Bandung sekaligus fans Persib, apa nama stadion baru Persita? Saya jawab saja Stadion Bojong Nangka, karena memang stadionnya berdiri di sana. Teman saya lalu tertawa. Tidak adakah nama yang lebih bagus, katanya. Lihatlah stadion baru Persib, stadion Gelora Bandung Lautan Api. Namanya bagus, bukan? Menanggapi pertanyaan itu, terus terang saya bingung mau menjawab apa. Apakah stadion baru Persita mau dinamakan Stadion Gelora Benteng Betawi, gitu? Atau mungkin biar agak-agak berbau Banten, kita beri nama Gelora Tirtayasa saja begitu? Anjay, saya yakin nama Tirtayasa masih asing di Telinga masyoritas orang Tangerang.

Tapi kawan, pembangunan stadion ini harus terus kita pantau. Setahu saya stadion ini masih berbentuk lapangan hijau yang dikelilingi tribun penonton separuh jadi. Target awalnya stadion ini kelar dibangun tahun ini, tapi nyatanya ngaret jadi tahun depan. Mudah-mudahan tidak mulur lagi mengingat stadion ini akan menemani Gelora Bung Karno dalam pagelaran Asian Games 2018. Selain itu, Persita juga kembali menunjukkan tajinya di kompetisi TSC B. Persita berhasil melaju ke babak 8 besar. Walau akhirnya terhenti ditangan PSCS. Tapi saya yakin, beberapa tahun lagi persita akan kembali ke ISL A. Karena itulah stadion Bojong Nangka harus secepatnya selesai dibangun, demi menyokong pergerakan Persita di ajang tertinggi sepak bola tanah air, dan kembali menjadi tim kebanggaan warga Tangerang.

Kamis, 08 Desember 2016

Perang Dingin Ahokers VS Ahok Haters








Aksi super damai 212 sejatinya merupakan representatif dari persatuan umat Islam yang luar biasa. Siapapun yang melihat peserta aksi memutihkan kawasan monas pasti akan bergetar hatinya, kagum menyaksikan kesolidan dari umat Islam. Kita semua tahu bahwa aksi super damai tersebut ditujukan untuk menekan pemerintah agar segera menahan Ahok. Tekanan yang bagi saya tidak berdasar mengingat proses hukum kepada yang bersangkutan sedang berjalan. Tindakan mereka justru memicu sebuah persepsi bahwa mereka tidak percaya kepada kinerja institusi penegak hukum di negeri ini, juga menimbulkan stigma bahwa mereka ingin memaksakan hukum keluar dari jalurnya. Tapi apapun itu, toh kasus ini mampu menyentak kesadaran beragama kita, bukan? Kasus ini juga mampu menyatukan berbagai lapisan umat Islam dari berbagai daerah. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal, kini mampu berjabat tangan mengikat persaudaraan. Jadi, mungkin ada baiknya apabila kita berterima kasih kepada Ahok yang kepeleset lidahnya itu.
            Berselang dua hari kemudian, aksi balasan berlanjut. “Parade Kita Indonesia” namanya. Mengapa saya bilang ini aksi balasan? Karena kita semua pasti tahu bahwa aksi ini tentu saja digalang oleh kelompok yang pro Ahok, atau lazim disebut Ahokers. Sementara aksi 212 sudah pasti diikuti oleh kelompok pembenci Ahok, atau Ahok haters.
            “Tidak benar, mereka hanya ingin kasus Ahok diselesaikan secara tegas!”
            Ya, saya tahu. Tapi munafik jika kita melupakan satu fakta bahwa sebagian yang mengikuti aksi tersebut telah terlanjur menanamkan kebenciannya kepada Ahok lantaran videonya di kepulauan seribu yang menjadi viral. Ada yang bertanya, mengapa tuntutan mengadili Ahok justru berujung kepada isu memecah kebhinekaan Indonesia? Jawabannya ada pada perkara minoritas dan mayoritas. Ahok berasal dari etnis Tionghoa dan beragama nasrani. Dia jelas minoritas. Ada orang-orang yang menganggap bahwa kelompok Ahok haters yang menuntut agar Ahok dihukum ialah kelompok yang tidak menyukai Ahok karena ia “cina” dan nasrani, sehingga tidak pantas menjadi Gubernur. Lebih jauh lagi, Ahok dianggap antek cina asing yang akan menjadi pintu masuk bagi etnis Tionghoa untuk menguasai negeri ini. Sungguh mimpi di siang bolong.
            Akibat stigma negatif dari Ahok haters inilah yang membuat mereka berpendapat bahwa kelompok ini telah melakukan tindakan intoleran dan berpotensi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekadar dijadikan bahan renungan saja, bahwa andaikan Ahok maju mencalonkan diri menjadi Gubernur saja, 46 % warga Jakarta pasti akan mendukung Ahok. Angka itu saya simpulkan dari hasil survei berbagai lembaga saat Ahok baru saja mencalonkan dirinya. Sedangkan warga Jakarta yang merupakan etnis Tionghoa jumlahnya hanya berkisar 10% saja. Sehingga isu mayoritas-minoritas tersebut jelas tidak berlaku karena yang mendukung Ahok di Jakarta pun mayoritas Umat Islam pribumi.
            Kemarin, ketika saya mengobrol dengan beberapa masyarakat etnis Tionghoa di Tangerang, mereka mengungkapkan kekhawatirannya pada kasus ini. Mereka takut kebencian umat Islam akan mengarah kepada mereka karena Ahok berasal dari etnis mereka. Dan kebencian tersebut akan berdampak pada tindakan anarkis. Mereka khawatir kejadian seperti 1998 akan terjadi lagi. Berkali-kali mereka katakan bahwa Ahok bukanlah representatif dari mereka. Mereka adalah etnis yang cinta damai dan berhati lembut. Gemar berbuat kebaikan kepada siapapun, dan tidak suka berkata kasar. Apa yang telah dikatakan Ahok, sama sekali tidak mewakili mereka.
            Pada penghujung obrolan kami, mereka menyadari bahwa setidaknya sampai saat ini kekhawatiran mereka tidak akan terjadi -dan jangan sampai terjadi- mengingat publik mengarahkan perhatiannya hanya kepada Ahok, tidak sampai kepada etnisnya.
            Kita semua tentu berharap agar masyarakat kita mampu bersikap dewasa. Apapun yang menjadi hasil akhir dalam persidangan nantinya haruslah kita terima dengan lapang dada. Andaikan Ahok terbukti bersalah dalam pengadilan, tentu ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya. Tapi kalaupun ternyata Ahok tidak bersalah, kita berbaik sangka saja kepada aparat penegak hukum, mungkin memang kita yang salah karena mudah tersulut emosi dan cenderung tidak mampu berpikir dingin, serta bersikap bijak dalam menyikapi kasus ini. Apapun hasil akhirnya, NKRI harga mati dan harus kita jaga persatuannya.

Catatan: Pernah dimuat di harian Banten News tanggal 7 Desember 2016