Rendra Pirani
Maman pias wajahnya, rautnya memerah. Terik mentari membakar kulitnya. Ia gusar laksana api yang tak kunjung padam. Sepetak sawah di hadapannyalah penyebabnya. Ia lantas turun dari pematang. Didekatinya rumpun padi yang mengering sebelum waktunya. Harusnya padi-padi di sini masih hijau, gemuk, dan mulai merunduk. Tapi sekarang lihatlah, separuh dari rumpun padi di petak ini justru berwarna kecokelatan, layu.
Maman berjongkok, dicabutnya sebatang padi yang mati tanpa isi. Seluruh persendian Maman serasa lumpuh kemudian, sebelum akhirnya ia luruh ke tanah, tak sanggup berdiri. Bagaimana mungkin ia gagal panen tahun ini. Bukankah selama ini ia adalah petani teladan karena hasil panennnya yang selalu mengagumkan? Lewat hasil panen itulah ia mampu menghidupi keluarganya. Termasuk membiayai kuliah putri pertamannya. Tapi kini, bagaimana mungkin rupiah mengalir ke kantongnya jika padinya saja mati mengering?
“Sundep, Man.”
Maman menoleh. Warijo tetangganya rupanya berdiri di belakangnya. Wajahnya sendu menutup Maman.
“Kamu sih panen kemarin tidak sukuran.”
Maman menunduk. Warijo lantas pergi begitu saja. Haruskah Maman menyalahkan ritual sialan itu? Apa salahnya jika ia tidak memberi makan penunggu sawah dengan bugana lepas panen kemarin? Ia tidak melakukannya bukan tanpa alasan. Putri pertamanya merengek karena biaya kuliahnya belum terbayarkan, istrinya memelas hendak dibelikan cincin bermata putih yang ia lihat di toko emas tempo hari, anak-anaknya yang kecil menangis dan tidak mau makan jika tidak diberikan mainan impor. Lebih baik ia memenuhi semua keinginan keluarganya daripada menjalankan kebiasaan turun temurun di kampungnya. Lagipula itu hanya ritual biasa, bukan? Mana mungkin ia gagal panen hanya karena tidak ada potongan ayam panggang dan nasi kuning tersaji di tiap sudut sawahnya.
Maman menyesali keputusannya. Ia lantas merutuki dirinya sendiri yang begitu arogan tidak mengakui jasa-jasa penunggu sawah yang kasat mata itu. Oh, andaikan waktu dapat diulang, tidak akan ia mengulangi kebodohannya. Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana cara membayar tunggakan kuliah putrinya. Meminjam kepada para tetangga? Mustahil. Mereka semua juga miskin. Bekerja serabutan menjadi buruh harian lepas? Oh, upahnya terlalu kecil. Menjadi nelayan? Tidak, tidak, Maman tidak pernah melaut. Lagipula ia tidak pandai berenang, kalau tenggelam bagaimana?
Padahal tidak lama lagi putrinya akan diwisuda. Satu-satunya mahasiswa yang berasal dari kampungnya akan mengenakan toga. Ia akan menjadi pesohor, karena berhasil menjadikan putrinya dokter. Ya, dokter pertama di desanya yang bukan turunan cina. Di saat pemuda yang lain justru sibuk menjadi kuli pabrik, putrinya justru mengobati orang-orang sakit. Tapi bagaimana semuanya bisa terwujud, jika tunggakan itu tidak segera dilunasi? Ada gengsi disana. Ia tidak ingin putrinya gagal, atau ia akan menjadi bahan olok-olok sekampung.
“Sia-sia kuliah. Nanti juga ujungnya kerja di pabrik juga. Atau paling si Maman bakal ngawinin putrinya itu sama orang kaya,” begitulah rupa ucapan yang akan ia dengar dari tetangga yang nyinyir pada kegagalannya.
Tiba-tiba ia teringat pada kedatangan beberapa bapak berdasi dan berkepala botak di kampungnya. Mereka menawari uang ratusan juta dengan syarat tanah milik warga diserahkan pada mereka. Untuk apa? Bertani seperti Maman? Jelas tidak, mereka hanya ingin menggali tanahnya, lalu pasir yang terkumpul akan dijadikan penyokong pembangunan gedung-gedung bertingkat di kota.
“Bapak-Bapak dan ibu-ibu sekalian tidak perlu khawatir. Harga tawar kami tinggi, tidak akan merugikan bapak-bapak sekalian. Lagipula, persawahan di sini sangatlah luas. Tanah sawah yang kami beli dan gali nanti, akan menjadi danau yang berguna untuk mengairi sawah bapak
bapak sekalian,” Jelas seorang Bapak. Maman tidak ingat siapa namanya. Yang jelas jika bapak-bapak yang lain botaknya di tengah, yang ini botaknya di depan.
“Tanah-tanah bapak akan sangat berguna demi mendukung pembangunan di kota. Apalagi dalam mendukung pembentukan International City,” lanjutnya lagi.
“Jo, apa tadi aku tidak salah dengar, kenapa nama Siti disebut-sebut ya?” Maman heran, ada apa dengan janda beranak dua itu.
“Aku juga tidak tahu, Man. Tidak penting omongan bapak-bapak ini, yang penting aku bisa makan, dapur tetep ngebul, uang selalu tersedia di dompet.”
Maman mengangguk, mengiyakan. Selesai seminar di balai desa, tidak ada yang bertanya apakah kegiatan penggalian ini sudah mendapat izin atau belum. Termasuk pegawai desa, mereka bungkam. Bedanya, jika warga gelisah tidak tahu apa yang hendak dilakukan, para pegawai itu justru tampak senang. Penyebabnya jelas, sebelum seminar diadakan, mereka telah melihat senyum para pahlawan di dalam kantong coklat tebal.
Setelah ada seorang warga yang menjual tanahnya, penggalian benar-benar dilakukan. Sawah itu lalu menjadi danau. Hanya saja tidak ada yang menyangka kalau danau itu kelak akan begitu dalam.
Maman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akankah petak sawahnya berubah menjadi danau?
Ah, harusnya Maman tidak perlu gelisah. Ia masih punya beberapa petak sawah yang lain, bukan? Hanya satu petak sawah tentu tidak jadi masalah. Tapi ada hal lain yang ia pikirkan; Penunggu sawah pasti akan marah.
“Sudahlah, peduli amat sama jin-jin di sawah ini!”
Maman mulai berdiri. Ia jejakkan kakinya kembali ke pematang. Rasa ingin tahunya membimbing kakinya untuk melangkah mendekati galian yang tidak jauh dari sawahnya. Kini dihadapannya tampak permukaan air galian berwarna biru yang beriak tenang. Barangsiapa yang menceburkan diri ke dalamnya, pasti tidak akan selamat. Ia akan tenggelam, dan jasadnya baru akan mengapung beberapa hari kemudian.
Bulan lalu, seorang pemuda dari kecamatan sebelah berniat memancing di galian ini. Saat memancing, entah mengapa ada yang menarik kakinya hingga ia tercebur ke dalam galian. Seluruh pemuda kampung yang pandai berenang telah menyelami galian ini. Tapi tubuh si pemuda seolah raib entah kemana. Barulah beberapa hari kemudian jasad si pemuda yang telah membengkak muncul sendiri ke permukaan. Orang-orang di sini percaya bahwa si pemuda mati bukannya tanpa sebab, pasti penunggu sawah ini meminta tumbal. Dan si pemudalah yang menjadi mangsanya.
Maman sebenarnya tidak percaya kisah itu. Matinya si pemuda pastilah disebabkan kecerobohan si pemuda itu sendiri. Soal tubuh yang juga tidak ditemukan penyebabnya tak lain adalah warna danau ini, ditambah kedalamannya yang pasti sulit ditembus mata manusia.
Kini Maman hendak pulang ke rumahnya. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya yang kuyu. Akan ia sampaikan apa yang menjadi keputusannya kepada anggota keluarganya. Tidak ada masalah yang tanpa solusi. Termasuk alternatif untuk mengganti kerugian akibat sundep yang ia alami. Maman melangkah dengan tegak. Di sepanjang perjalanan, senyumnya tak mau pergi.
***
Kegaduhan terjadi di jalanan tak beraspal. Serombongan warga berupaya mengejar langkah cepat Darso. Kemarin mayat anaknya yang baru berumur belasan tahun ditemukan mengambang di permukaan galian pasir.
“Maman harus bertanggung jawab!” Teriaknya sambil mengangkat sebilah golok tinggi-tinggi.
Ia hampir memasuki pekarangan rumah Maman. Beberapa orang pemuda menghadangnya, memegangi tubuhnya, tapi percuma. Amukan Darso terlalu kuat. Sadar keselamatan keluarganya dalam bahaya, Maman memilih keluar daripada harus bersembunyi di dalam rumah. Ia ingin menenangkan Darso. Sayang, belum sempat ia menjumpai wajah Darso, mata golok telah melewati lehernya.
***
(Dimuat di Majalah Sastra Kandaga edisi III, Desember 2016)






