Sabtu, 16 Februari 2019

Sandiwara Terindah




           Rini menangkap pantulan wajahnya pada gelas kaca. Satu jam yang lalu ia mendapati ice cappuccino di dalamnya, tapi yang kini ia temukan hanyalah bayangan sepasang mata merah yang beranak sungai di pipi. Isinya sudah tandas, padahal kegundahan hatinya masih membatu. Lebih parah lagi, gelas itu malah  mengingatkannya pada seseorang yang selama dua purnama menghilang dari hidupnya begitu saja.
            Biasanya dengan minuman itu Rini menghabiskan senjanya yang berharga bersama Ghifar. Mereka akan mendebat rutinitas apa yang seharian ini telah mereka lewati. Karena hanya dengan cara itulah lelah yang mereka rasakan akan sirna. Tapi bagi Rini lebih dari itu, ia mampu membunuh satu rasa yang setiap detik mendekap batinnya; kerinduan. Sayang Ghifar tak pernah tahu.
            “Ghifar, kenapa sih kamu nggak pernah rapihin rambut kamu?” Tanya Rini suatu hari. Ia memandangi wajah kusut laki-laki yang duduk di hadapannya.
            “Nggak sempet, Rin,” jawabnya singkat, sambil menggambari sketsa pada selembar kertas.
            “Tapi kamu sempet main ke kafe ini setiap hari?”
            “Yah karena kopi buatanmu enak.”
            Hanya itu?
            “Kamu gambar apa sih?” Rini mendongak, tapi Ghifar lebih dulu membalik kertasnya.
         “Jangan dilihat, yang ini belum selesai! Kalau mau, kamu bisa lihat yang itu,” ia melirik tumpukan kertas yang lain. Rini menurutinya.
            “ Kamu arsitek?”
            “Iya, lagi banyak proyek sekarang.”
            “Ooh.”
             Rini Sekali dua melirik Ghifar, tapi Ghifar sendiri malah sibuk dengan pekerjaannya. Selama satu jam mereka duduk berhadapan, hanya hitugan jari Ghifar melihat wajahnya. Rini bosan, ia ingin menggoda Ghifar, sekaligus menjawab rasa penasarannya. Diletakkannya kertas sketsa itu seperti semula.
         “Kenapa kamu nggak pernah bawa pasanganmu ke mari?” Rini menanyakannya seraya tersenyum.
            “Baru putus, Rin.”
            “Loh kenapa?”
            Ghifar meletakkan pensil. Mereka bersitatap. Rini menyadari ada yang aneh pada sepasang mata elang itu. Ia kehilangan ketajamannya.
            Please, jangan bahas itu, Rin.”
          Setelahnya, Rini tidak pernah bertanya lagi adakah wanita yang mengisi hati laki-laki berambut gimbal itu. Ia tidak berani. Seperti ketidakmampuannya mengungkapkan perasaannya hingga saat ini.
            Air mata Rini jatuh lagi.
          Ah, sial. Mengapa aku mudah menangis sekarang? Bukankah Ghifar baru menghilang satu bulan? Bukankah esok aku akan kehilangan Ghifar untuk selamanya. Tunggu, aku tidak pernah memiliki Ghifar! Ia hanya datang untuk menghapus lukanya setelah ditinggal mantan kekasihnya. Ia kemari untuk mencari hiburan, dan aku tidak lebih dari sekedar temannya saja, bukan?!
            Rini terisak. Untungnya ini hari Jumat. Kafe libur. Ia menyimpan kuncinya dan sengaja ke sini hanya untuk mengenang kebersamaannya dengan Ghifar. Konyol. Untuk apa mengenang seseorang yang telah pergi dari hidup kita, apabila kita tahu ia tidak akan kembali?  
***
            Ghifar memberanikan diri membuka lemari. Ada pakaian pengantin yang akan ia gunakan esok hari. Dengan cepat ia meraih pakaian itu dan melemparkannya ke atas ranjang. Kini tampak di hadapannya, sketsa wajah wanita cantik dengan rambut lurus terikat. Dibagian bawah kertas sketsa itu tertulis sebuah kalimat;
            Wanita teristimewa yang tidak pernah mampu kugenggam.
Lama ia memandangi gambar itu sebelum ia membenturkan kepalanya berkali-kali pada permukaan lemari.
            Bodoh! Bodoh! Bodoh!
            Mengapa aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepada barista itu? Bukankah ia layak tahu perasaanku, walaupun aku hendak menikahi wanita lain?
            Setelah Desi meninggalkannya, ia dengan mudahnya menyetujui usulan orangtuanya untuk mencarikannya calon pendamping hanya karena frustasi. Padahal cinta bisa datang darimana saja, dengan cara yang tidak terduga.
            Setiap sore ia sengaja datang ke kafe pelangi hanya untuk menghibur dirinya. Tapi lama kelamaan, ia justru merasa tenang dan nyaman saat ada seorang barista yang mau menemaninya melewati senja. Ia sengaja menyibukkan dirinya dengan menggambar berbagai sketsa, untuk mengusir gugup yang mendekapnya. Cara itu selama ini berhasil. Tapi si gadis tidak pernah tahu, ada sketsa teristimewa yang tidak pernah ia lihat, tersembunyi dibalik segala sketsa bangunan bertingkat. Ghifar merutuki dirinya sendiri. Ia sungguh laki-laki pengecut.
            Kini ia harus melupakan sang barista, walau ia tahu lebih mudah menghapus gambar itu daripada menghapus bayangannya di pikirannya.
***
Yogyakarta, 2016.
Cerpen ini merupakan hasil challenge menulis cerpen 2 jam yang diadakan oleh Kampus Fiksi Diva Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar