Rini menangkap pantulan wajahnya pada gelas
kaca. Satu jam yang lalu ia mendapati ice cappuccino di dalamnya, tapi yang
kini ia temukan hanyalah bayangan sepasang mata merah yang beranak sungai di
pipi. Isinya sudah tandas, padahal kegundahan hatinya masih membatu. Lebih
parah lagi, gelas itu malah mengingatkannya pada seseorang yang selama dua
purnama menghilang dari hidupnya begitu saja.
Biasanya
dengan minuman itu Rini menghabiskan senjanya yang berharga bersama Ghifar.
Mereka akan mendebat rutinitas apa yang seharian ini telah mereka lewati.
Karena hanya dengan cara itulah lelah yang mereka rasakan akan sirna. Tapi bagi
Rini lebih dari itu, ia mampu membunuh satu rasa yang setiap detik mendekap batinnya;
kerinduan. Sayang Ghifar tak pernah tahu.
“Ghifar,
kenapa sih kamu nggak pernah rapihin rambut kamu?” Tanya Rini suatu hari. Ia
memandangi wajah kusut laki-laki yang duduk di hadapannya.
“Nggak
sempet, Rin,” jawabnya singkat, sambil menggambari sketsa pada selembar kertas.
“Tapi
kamu sempet main ke kafe ini setiap hari?”
“Yah
karena kopi buatanmu enak.”
Hanya
itu?
“Kamu
gambar apa sih?” Rini mendongak, tapi Ghifar lebih dulu membalik kertasnya.
“Jangan
dilihat, yang ini belum selesai! Kalau mau, kamu bisa lihat yang itu,” ia
melirik tumpukan kertas yang lain. Rini menurutinya.
“
Kamu arsitek?”
“Iya, lagi banyak proyek sekarang.”
“Ooh.”
Rini Sekali dua melirik Ghifar, tapi Ghifar
sendiri malah sibuk dengan pekerjaannya. Selama satu jam mereka duduk
berhadapan, hanya hitugan jari Ghifar melihat wajahnya. Rini
bosan, ia ingin menggoda Ghifar, sekaligus menjawab rasa penasarannya.
Diletakkannya kertas sketsa itu seperti semula.
“Kenapa
kamu nggak pernah bawa pasanganmu ke mari?” Rini menanyakannya seraya
tersenyum.
“Baru
putus, Rin.”
“Loh
kenapa?”
Ghifar
meletakkan pensil. Mereka bersitatap. Rini menyadari ada yang aneh pada
sepasang mata elang itu. Ia kehilangan ketajamannya.
“Please,
jangan bahas itu, Rin.”
Setelahnya,
Rini tidak pernah bertanya lagi adakah wanita yang mengisi hati laki-laki
berambut gimbal itu. Ia tidak berani. Seperti ketidakmampuannya mengungkapkan
perasaannya hingga saat ini.
Air
mata Rini jatuh lagi.
Ah,
sial. Mengapa aku mudah menangis sekarang? Bukankah Ghifar baru menghilang satu
bulan? Bukankah esok aku akan kehilangan Ghifar untuk selamanya. Tunggu, aku
tidak pernah memiliki Ghifar! Ia hanya datang untuk menghapus lukanya setelah
ditinggal mantan kekasihnya. Ia kemari untuk mencari hiburan, dan aku tidak
lebih dari sekedar temannya saja, bukan?!
Rini
terisak. Untungnya ini hari Jumat. Kafe libur. Ia menyimpan kuncinya dan
sengaja ke sini hanya untuk mengenang kebersamaannya dengan Ghifar. Konyol. Untuk apa
mengenang seseorang yang telah pergi dari hidup kita, apabila kita tahu ia
tidak akan kembali?
***
Ghifar
memberanikan diri membuka lemari. Ada pakaian pengantin yang akan ia gunakan
esok hari. Dengan cepat ia meraih pakaian itu dan melemparkannya ke atas
ranjang. Kini tampak di hadapannya, sketsa wajah wanita cantik dengan
rambut lurus terikat. Dibagian bawah kertas sketsa itu tertulis sebuah kalimat;
Wanita teristimewa yang tidak pernah mampu
kugenggam.
Lama ia memandangi gambar itu sebelum ia
membenturkan kepalanya berkali-kali pada permukaan lemari.
Bodoh!
Bodoh! Bodoh!
Mengapa
aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepada barista itu? Bukankah ia layak
tahu perasaanku, walaupun aku hendak menikahi wanita lain?
Setelah
Desi meninggalkannya, ia dengan mudahnya menyetujui usulan orangtuanya untuk
mencarikannya calon pendamping hanya karena frustasi. Padahal cinta bisa datang
darimana saja, dengan cara yang tidak terduga.
Setiap
sore ia sengaja datang ke kafe pelangi hanya untuk menghibur dirinya. Tapi lama
kelamaan, ia justru merasa tenang dan nyaman saat ada seorang barista yang mau
menemaninya melewati senja. Ia sengaja menyibukkan dirinya dengan menggambar
berbagai sketsa, untuk mengusir gugup yang mendekapnya. Cara itu selama ini
berhasil. Tapi si gadis tidak pernah tahu, ada sketsa teristimewa yang tidak
pernah ia lihat, tersembunyi dibalik segala sketsa bangunan bertingkat. Ghifar
merutuki dirinya sendiri. Ia sungguh laki-laki pengecut.
Kini
ia harus melupakan sang barista, walau ia tahu lebih mudah menghapus gambar itu
daripada menghapus bayangannya di pikirannya.
***
Yogyakarta, 2016.
Cerpen ini merupakan hasil challenge menulis cerpen 2 jam yang diadakan oleh Kampus Fiksi Diva Press.
